Thought

Pernikahan Disaat Pendemic Corona (Covid 19)

11:30:00 PM

Menikah Saat Corona

Assalamu'alaikum...

Setelah sekian lama gak posting diblog, dan ini sudah terlalu lama, tetiba aku nongol dengan tema menikah. Hehehe Judulnya terinspirasi karena kebetulan habis nonton The World of The Married, jadi langsung baper. Pada nonton juga kan yaaa? Ditambah baru saja Sabtu, 11 April 2020 alhamdulillah akhirnya aku melaksanakan pernikahan.

Ditema blog kali ini sebenarnya bukan bahas tentang kisah filmnya The World of The Married, karena pasti kalian juga bisa temukan berbagai macam sinopsis dimana mana. Tapi aku cuma mau share bagaimana kisah pernikahan aku yang penuh drama. Mulai dari hubungan aku dengan pasangan yang sudah berjalan 9tahun lalu putus, dan tetiba langsung dilamar nikah setelah pisah 2 tahun. Hingga detik detik menjelang pernikahan yang diselimuti wabah corona.

Bagi aku dan suami, proses pernikahan kami tidaklah mudah. Banyak lika liku, jatuh bangun bersama. Mulai dari masa sama-sama labil, masa dimana kami bosan, konflik yang tak kunjung usai. Pernah hampir setengah gila dan stres juga mungkin, terpisah, hingga akhirnya berada dititik pendewasaan yang sama -sama menyadarkan kami dan kembali dipertemukan oleh sang maha Kuasa.

Lamaran

Dalam rentang waktu yang singkat, tepatnya lebaran tahun 2019, setelah pisah 2tahun, suami langsung menghadap ke orang tua aku (yang pastinya saat itu calon suami). Sempat galau, takut, gak yakin, tapi aku kembalikan semuanya ke yang Maha Kuasa. Kembali ke tujuan dan niat awal aku pengen menikah, dan kembali lagi ke tujuan awal niat suami pengen menikah. Gak mudah untuk langsung meng'iya'kan apalagi dimasa hubungan yang panjang dan pernah berakhir, jadi ketakutan tersendiri bagi wanita khusunya aku. Aku coba kembali sholat istoqarah, berdoa dan mohon petunjuk sama Allah, gak banyak cerita sama teman, tapi lebih banyak curhat dengan keluarga. Alhamdulillah pilahan dan hati lebih berat untuk menjadikannya imamku kelak.

Banyak yang bertanya apa yang membuatku yakin. Cukup simple, tanya kembali ke-diri sendiri dan niat untuk menikah. Ada perasaan hidup sudah mulai butuh pendamping (cielah), mulai bertanya arti dan tujuan hidup, dan aku merasa ingin memiliki kehidupan baru. Merasa ingin menyempurnakan sebagian ibadahku dengan menikah. Perasaan ingin memiliki keturunan yang kelak akan selalu mendoakan kita. Perasaan-perasaan seperti ini sudah mulai, dan sangat berbeda saat sebelum kami putus, ketika kami memaksakan ingin menikah tapi cuma karena pengen segara halal sehingga belum adanya kesadaran dan kesiapan mental masing-masing.

Selain perasaaan itu, tentunya banyak laki-laki lain yang bisa dijadikan pasangan? Dan kenapa harus dia? Hehe... pertanyaan sulit. Karena adanya perasaan nyaman yang membuat kita merasa yakin dan percaya salah satu kunci aku membentuk sebuah hubungan. Selain itu juga kejujuran, ketaatan dalam ibadah, taat kepada orang tua, serta sabar dan berkata yang menyejukan jiwa, menjadi penilaian tersndiri yang cukup membuat aku yakin kelak dia akan jadi imamku. Walaupun semua orang jauh dari kata sempurna, tapi dengan sifat dasar yang baik, aku sangat yakin suamiku akan jadi imamku yang bertanggung jawab yang bisa membimbing aku.

Waahh curhatan jadi panjang.... Tentunya dengan lika-liku kisah kami yang panjang, pernikahan jadi hal yang paling kami nanti-nantikan. Mulai menentukan tanggal pernikahan, orang tua aku yang juga sempat sakit, hingga akhirnya walau sudah direcenakan secepatnya, untuk mencapai kata sah ternyata butuh waktu dan akhirnya disepakati pada 11 April 2020 dengan lika-liku sebelum hari H.

Persiapan Pernikahan

Setelah official lamaran di Januari, tepat saat ulang tahun aku ke 29 kami sudah mulai mempersiapkan untuk pesta pernikahan. Mulai dari cari baju nikah, pesta baralek, catering, undangan hingga pelaminan. Hingga semua sudah cukup fix sampai maret dan beberap udah dibooking mama juga. Tapi rencana Tuhan berkata lain. Tepat 2 minggu undangan kelar dan mau disebar, mulai muncul wabah covid 19 (corona virus) di Indonesia dan di Padang. Kebetulan aku akan melangsungkan akad nikah dan pesta di Padang. Karena pemerintah sudah mulai mengeluarkan peraturan yang melarang adanya pesta pernikahan, dalam hitungan H-14 menjelang pernikahan, rencana pesta pernikahan aku pun gagal. T.T Galau antara sedih tapi harus ikhlas demi kebaikan bersama. Apalagi awal-awal masa covid jadi masa paling menakutkan. Tapi walau begitu, tidak menyurutkan niat kami untuk tetap melanjutkan pernikahan. Karena wabah covid belum tau kapan berakhir, jadi niat baik jangan ditunda dan tetap dilaksanakan sesuai dengan protokol kesehatan yang ada. Heehehe.

Pernikahan Ala Covid 19

Karena saya dan suami domisili di Jakarta, sedangkan pernikahan kami di Padang, mulai ada ketakutan kami bakalan dikarantina dan tidak bisa langsung pulang 2 hari sebelum menikah. Karena kantor sudah mulai menjalankan WFH, alhamdulillah segalanya diberi kemudahan dan aku diizinkan pulang ke Padang lebih cepat 14 hari sebelum jadwal pernikahan. Jadi sebelum hari H, saya dan suami sudah menjalankan karantina mandiri demi menjaga kesehatan bersama. Selam perjalanan pulang ke Padang dan dibandara pun, dipenuhi ketakutan, takut kalau aku bawa virus dari Jakarta dan berdampak buruk bagi orang tua aku di rumah. Selama perjalanan jadi gak henti-hentinya berdoa dan berlindung diri kepada Allah SWT.

Sesuai anjuran dan peraturan pemerintah serta kementrian agama, pernikahan kami dilaksanakan di KUA domisili terdekat dengan kapasitas orang yang hadir dibatasi maksimal 10 orang, harus memakai masker dan sarung tangan. Jadi pada sedih banyak yang gak bisa hadir. Tapi kembali lagi ke niat kami menikah, alhamdulillah dilapangkan hati dan semua dijalankan dengan penuh ikhlas, segalanya berjalan lancar. Walau sempat ada drama-drama kecil sebelum keberangkatan yang terburu-buru. Karena pernikahan di KUA, waktu dibatasi hingga 1 jam. Jadi tanpa basa-basi dan panjang lebar, pak KUA kasih nasehat dikit dan setelahnya langsung ijab kabul. Dengan live instagram setidaknya mengobati sedikit rasa penasaran teman-teman yang pengen ikut nimbrung merasakan pernikahan aku dan suami. Hehehe.

Karena tidak ada pesta, jadi saya dan suami setelah nikah langsung photo shoot aja mengabadikan moment dihari spesial kami, dan berdoa bersama keluarga. Walau segalanya diluar ekspetasi, tapi dengan hati yang ikhlas dan lapang, insyaAllah segalanya dimudahkan Allah SWT. Aku juga menyempatkan foto dengan suntiang, yang sakralnya dipakai saat pesta pernikahan. Tapi karena lihat situasi yang masih belum tau kapan berakhir, aku cuma pakai suntiang buat foto. Jujur banget pake suntiang salah satu impian wanita berdarah Minang dan khususnya aku. Walau belum bisa pakai dipesta pernikaha,n photo shoot dulu boleh lah yaaaa.

Suntiang Minang
MUA by @fitridewitamakeup

Sedikit cerita tentang prhotographer selama nikah. Sebelumnya aku sudah booking photographer jauh-jauh hari. Tapi karena wabah corona yang jadi mengurangi waktu dan tidak ada pesta, tetiba photographer yang udah dibooking jadi gak bisa dihubungi. Pasrah pakai kamera si abang aja, tapi siabang ga yakin, jadilah H-1 tengah malam, mungkin sudah hari H deh, siabang telp kenalannya dan minta photo dipernikahan aku paginya. Alahamduilillah segalnya dilancarkan dan uda photographernya bisa. Huhuhuuu..  Terimakasih @uncledodiphotography

Baralek Minang
Photo by : @uncledodiphotography

Makna Pernikahan

Karena niat awal menikah, menuju kata 'sah', menyempurkan sebagian agama, mempunyai hubungan halal, dan menjadikan menikah sebagai bagian dari ladang ibadah terpanjang, insyaAllah segalanya jadi mudah. Kami tidak terlalu sedih karena tidak adanya pesta. Walau keluarga besar sangat ingin ada pesta karena ini jadi ajang bisa berkumpul bersama keluarga. Tapi keadaan berkata lain. Membuat cerita pernikahan kami jadi sebuah cerita baru yang tak terlupakan. Mungkin kisah kami yang juga penuh lika-liku, hingga mencapai kata "sah" saja sudah cukup bahagia.

Bagi yang merencakan pernikahan, mungkin yang bikin sulit tidak hanya masalah rejeki ataupun kemapanan, atau dalam hal menemukan jodoh, tapi menurut aku juga lebih kepada kesiapan mental kita masing-masing. Siap atau tidak dengan segala cobaan yang akan menghadang dan tantangan baru setelah pernikahan. Siap atau tidaknya kita dengan amanah dan tanggung jawab sebagai suami, atau istri, dan juga ibu dan bapak dari anak-anak kita kelak nanti. Karena bagaimanpun juga, setelah bersama kita jadi tau kekurangan masing-masing dan inilah peran kita sebagai pasangan untuk saling melengkapi. Walau aku dan suami ada beberapa banyak kesamaan, tapi banyak juga dari kami yang kurang dan saling melengkapi.

Tentunya dipupuk terus dengan kasih sayang, cinta dan saling pengertian sesama pasangan. Walau hubungan saya dan suami juga masih jauh dari kata sempurna, perpisahan jadi mengajarkan kami banyak hal tentang arti saling membutuhkan, saling melengkapi, dan saling mengerti akan kebutuhan satu sama lain dan juga keinganan satu sama lain. Jadi tetap semangat buat yang belum menemukan pasangan. Mungkin bisa dimulai lagi dengan memperbaiki niat dari diri kita masing-masing untuk menikah dan tentunya selalu ikhtiar kepada Allah. InsyaAllah segalanya dimudahkan. Termasuk bisa mengadakan pesta pernikahan kembali seperti sedia kala.

Semoga pernikahan kita dan teman-teman semua selalu sakinah mawaddah warrohmah.. Selalu diberikan kebahagian dalam rumah tangga dan rezki yang melimpah..Aamiin

You Might Also Like

0 komentar

Hii All.. Thanks for visiting my blog.. Please leave your comment and connect each other.. Thankyou ^.^