Japan Culture

KABUKI

3:32:00 PM

2.1 Pengertian Kabuki

Kabuki adalah bentuk teater klasik yang mengalami evolusi pada awal abad ke 17. Ciri khusus kesenian ini adalah adanya irama kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh para actor kostum yang super mewah, tata rias yang mencolok, serta penggunaan peralatan mekanis untuk memperoleh efek-efek khusus di panggung. Tata rias yang mencolok bertujuan untuk menunjukkan sifat dan suasanya hati tokoh yang dibawakan actor pada umumnya, pertunjukan Kabuki mengambil tema masa abad pertengahan atau zaman Edo dan semua actor yang bermain adalah seorang pria.

Kabuki yang bertahan sampai saat ini masih digemari oleh orang Jepang Kesenian ini muncul sebagai kesenian rakyat kota terutama kelas para pengrajin dan pedagang pada jaman Edo dalam pemerintahan Shogun Tokugawa. Pemain kabuki seluruhnya adalah laki-laki, yang dilatih dalam segala peran sehingga tidaklah aneh bahwa peran wanitapun dapat diperankan dengan baik.

1.2 Sejarah Perkembangan Kabuki

1.2.1 Zaman Edo (1600-1867)

Bentuk drama Kabuki diciptakan pada awal abad ke 17, oleh seorang wanita bernama Okuni yang berasal dari Kuil Izumo Drama klasik ini berawal ketika gadis Okuni membentuk kelompok penyanyi dan penari untuk menyelenggarakan pertunjukkanseni, guna mencari dana untuk kuil Izumo.

Berhubung di dalam ajaran agama Budha, orang dilarang menyani dan menari di dalam kuil, maka Okuni ddan kawan – kawannya melakukan pementasan seni yaitu nyanyian dan tarian secara berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, sehingga akhirnya mereka sampai ke kota – kota. Pertunjukkan Okuni dam kawan – kawan itu, pada mulanya tidak diilakukan di atas panggung tetapi ketika Okuni dan kawan – kawan diundang Shogun Tokugawa untuk mengadakan pementasan di Istana kaisar di Kyoto maka untuk pertama kalinya pementasan drama klasik Kabuki dilakukan di atas panggung.

Sementara itu, sebagai dampak dari kebijakan politik Sakoku 鎖国, yang diterapkan oleh Shogun Tokugawa terkenal dengan sebutan politik pintu tertutup yaitu kebijakan untuk menutup diri dari dunia luar khususnya bagi dunia barat, melarang orang Jepang bepergian keluar dari Jepang, hal ini dimaksudkan untuk mencegah masuknya ideologi asing khususnya agama kristen yang bertentangan dengan feodalisme. Dengan diterapkannya politik pintu tertutup ini Jepang menglami masa kejayaan yang cukup lama karena terciptalah kedamaian dan perkembangan perekonomian dalam negeri.

Dalam kondisi semacam itu, kelas sosial yang paling diuntungkan secara ekonomis adalah kelas pedagang dan pengrajin. Meskipun dalam strata sosial yang secara hirarkis mereka menempati posisi yang paling rendah dari kelas – kelas lainnya tetapi mereka memiliki banyak uang, modal dan kekayaan yang berlimpah. Dorongan lain bagi perkembangan ekonomi adalah Shogun Tokugawa menerapkankan sistem bermukim yang bergantian bagi para daimyo di Edo dikenal dengan istilah sankinkootai (参勤交代), untuk biaya perjalanan para bushi dari daerah menuju Edo dan sebaliknya memerlukan biaya yang cukup besar, maka mau tidak mau para bushi harus berurusan dengan kelas pedagang sebagai bankir. Dengan kekuatan uang dan kekayaan tersebut kaum pedagang dan pengrajn yang umumnya menjadi penduduk kota mulai tertarik untuk mengembangkan kebudayaan baru yang mempunyai simbol eksistensi mereka. Di kalangan warga masyarakat kota semacam inilah pementasan – pementasan seni seperti yang dilakukan oleh Okuni dan kawan – kawan dari kuil Izumo menemukan lahan persemaian yang subur, sehingga kemudian berkembang menjadi seni drama klasik Kabuki.

Pengungkapan aspek kehidupan secara realistik dan sensualistik, menjadi salah satu ciri yang disenangi dalam pementasan drama klasik kabuki saat itu, Oleh karenanya kabuki dianggap dan diakui sebagai salah satu pencerminan dari kebudayaan kaum pedagang dan pengrajin. Pada mulanya pemerintahan Bakufu (= pemerintahan militer) yang dikendalikan oleh shogun Tokugawa menyetujui diselenggarakannya pertunjukan drama klasik Kabuki tersebut, akan tetapi karena pada perkembangan selanjutnya terjadi penyimpangan-penyimpangan sosial, misalnya terjadinya praktek prostitusi di kalangan para pemain, maka pementasan drama Kabuki dilarang oleh pemerintah.

Kemudian pementasan dram klasik kabuki diinjinkan kembali oleh Pemerintah Bakufu pada bulan Maret 1653, tetapi harus memenuhi dua persyaratan, yaitu :

1. Para pemain harus laki-laki dewasa dan rambutnya harus dipotong seperti samurai. 
2. Dilarang menggunakan lagu dan tarian yang dapat menimbulkan nafsu birahi.

Pria yang berperan sebagai wanita dalam bahasa Jepang disebut mono mane kyogen, dan kabuki sejak saat itu bukan lagi sebagai teater keliling tetapi sudah menetap pada suatu tempat pertunjukkan yang sekarang dikenal dengan kabukiza. Melalui bentuk yang terakhir ini kabuki terus berkembang menuju sosok drama yang sesungguhnya dengan penggunaan dialog, penyempurnaan panggung dan perkembangan jenis cerita sehingga drama tradional ini mencapai puncak kejayaan dan kepopulerannya pada akhir abad ke 18, dan sampai sekarang pun kabuki merupakan drama tradisional yang selain masih digemari oleh orang Jepang sendiri, juga merupakan hal yang sangat menarik bagi orang asing yang ingin mengetahui kebudayaan Jepang terutama keseniannya.

Dengan kata lain, hal-hal yang berperan dalam perkembangan kabuki antara lain adalah perngaruh keadaan sosial dan politik pada jaman Edo yaitu pada masa pemerintahan Shogun Tokugawa (tahun 1603 – 1867) Selama masa 265 tahun rakyat biasa menjadi kekuatan sentral dalam pengembangan kebudayaan di bawah shogun Tokugawa, sebuah kebudayaan kelas pedagang yang lebih dikenal dengan kaum saudagar berkembang di Edo.

Perkembangan kebudayaan yang paling menonjol dan menarik dalam masa Tokugawa adalah timbulnya masyarakat Kota yang sangat berbeda dengan kebudayaan kaum samurai maupun kelas istana yang mendominasi karya – karya sastra pada jaman sebelumnya. Kebudayaan kota ini muncul sebagai akibat dari adanya stratifikasi sosial, perubahan dan perkembangan baru dalam kehidupan ekonomi Jepang yang berorientasi pada perniagaan di dalam negeri. Tumbuh dan berkembangnya perniagaan di dalam negeri sangat menguntungkan bagi kaum pedagang dan juga pengrajin sebagai warga mayoritas masyarakat kota. Tidaklah mengherankan jika kemudian perkembangan kebudayaan masyarakat kota berpusat di sekitar tempat-tempat hiburan yang ada di kota, tempat para pedagang dalam kehidupan ekonomi sebagai penghasil uang dan pengumpul kekayaan terbesar yang gemar bersantai ria dengan berbagai hiburan.

Inti dari perkembangan kebudayaan jaman Edo telah bergeser pada orang – orang kota kelas pedagang (shoonin) dan kelas pengrajin (koonin) yang kedua kelas itu secara keseluruhan dikenal dengan sebutan “choonin” yang berarti masyarakat kota. Oleh karena itu, Drama klasik Kabuki juga dikenal sebagai kebudayaan Chonin di jaman Edo. Meskipun demikian, peranan pemerintah militer Tokugawa sangat menonjol dengan “Bushido”nya. Berbagai gejala sosial yang timbul sebagai akibat dari sitem pemerintahan mniliteristik dan feodalistik yang diterapkan oleh Shogun Tokugawa, tampaknya menjadi sumber inspirasi bagi para penulis skeario drama klasik Kabuki.

Drama klasik kabuki yang menggambarkkan realitas kehidupan masyarakat kota di seputar kawasan Edo disebut Aragoto, sedangkan di Kawasan Kansai disebut Wagoto. Sebagaimana kita ketahui bahwa Kabuki pada awalnya hanya berupa lagu dan tari yang diciptakan oleh wanita muda yang bernama Okuni dari kuil Izumo, pada masa pemerintahan shogun Tokugawa Ieyasu. Ketika mulai melakukan pementasan terbuka di depan masyarakat kota, Okuni membawakan cerita yang menempatkan dirinya berperan sebagai lelaki muda yang mengunjungi kedai teh. Dalam cerita itu digambarkan bagaimana para pria pengunjung kedai teh bergaul dengan para geisha secara tidak sopan. Di bagian lain dalam pementasan itu juga ditampilkan nyanyian dan gerak tari pemujaan terhadap Budha, yang di dalam bahasa Jepang disebut nenbuts, dan sejak saat itu, melalui drama klasik ini Okuni menjadi populer di Jepang.

Tarian Okuni disebut Kabuki Odori, yang menggambarkan suatu kemegahan yang menjadikan dirinya amat populer, tetapi di sisi lain para pemainnya melayani para pemainnya melayani para pria penggemarnya sehingga terjadilah praktek prostitusi terselubung. Akibatnya, pada tahun 1629 pemerintah Tokugawa melarang pementasan drama klasik Kabuki wanita penghibur yang disebut Onna Kabuki, karena Shogun Tokugawa kuatir akan timbul pengaruh sosial yang lebih buruk. Peranan pemerintahan militer sangat menonjol, karena tanpa adanya larangan dan tekanan pada pertunjukkan kabuki, maka tidak akan ada drama kabuki dalam bentuk yang khas. Gejala sosial yang timbul akibat sistem pemerintahan Tokugawa memberi inspirasi bagi penulis skenario kabuki untuk mewujudkannya dalam naskah drama kabuki.

Drama kabuki yang menggambarkan kenyataan hidup dari masyarakat kota yang lahir di daerah kansai disebut Wagoto, sedangkan yang menggambarkan watak masyarakat Edo disebut Aragoto. Kabuki pada awalnya hanya berupa lagu dan tari yang diciptakan oleh Okuni, pada saat pemerintahan Tokugawa Ieyasu, Okuni mulai tampil dengan terbuka di depan masyarakat kota, dengan cerita Okuni berperan sebagai lelaki mengunjungi kedai teh, di sana digambarkan bahwa pria bergaul dengan geisha secara tidak sopan.

Di sisi lain ditampilkan tarian Budha yang berupa tarian pemujaan yang dalam bahasa Jepang dikenal dengan istilah nenbutsu, sejak saat itu melalui drama ini Okuni menjadi populer. Tarian Okuni disebut Kabuki Odori, yang menggambarkan suatu kemegahan yang menjadi amat populer, tetapi di sisi lain para pemainnya melayani para pria penggemarnya sehingga terjadi pelacuran, sebagai akibat dari hal tersebut maka pada tahun 1629 Tokugawa melarang pertunjukkan kabuki wanita penghibur yang disebut Onna kabuki, karena shogun khawatir akan pengaruh sosial yang lebih buruk, dan sebagai pengganti dari Onna kabuki adalah wakashu kabuki. Wakashu kabuki adalah kabuki yang pemerannya adalah pria muda dan rupawan, tetapi ternyata wakashu kabuki juga tidak jauh berbeda dengan onna kabuki yang menonjolkan keindahan tubuh pemainnya, yang berkesan erotis, dan munculnya homoseksual maka sebagai akibatnya shogun kembali melarang pertunjukkan wakashu kabuki. Larangan pementasan baru dicabut setelah para penyelenggara dan pemain kabuki menerima 2 persyaratan yang harus dipatuhi dan di dalam setiap pementasan drama Kabuki sebagaimana telah dipaparkan terdahulu.

2.2.2 Zaman Meiji (1868-1912)

Pada saat Jepang mulai membuka diri terhadap masuknya dunia barat, hal itu berpengaruh sangat besar terhadap perkembangan Kabuki. Salah satunya adalah banyak peraturan pemerintah yang menekan Kabuki dihapus. Namun selain hal ini, Kabuki juga harus beradaptasi dengan dunia yang telah berubah. Pada masa itu, simbol kesuksesan aktor Kabuki adalah untuk dapat melakukan pertunjukkan di depan kaisar Meiji.

Pada zaman Meiji, penggemar Kabuki tetap banyak, di lain sisi karya-karya Kabuki kerap dikritik oleh para cendekiawan. Isi kritik serbaragam, mulai dari kritik pada isi yang bertentangan dengan peradaban karena dinilai terlalu kuno atau menyimpang dari kenyataan kehidupan sehari-hari. Trik-trik pertunjukan yang digunakan pun dinilai tidak lazim (istilah untuk ini adalah Keren), misalnya Chunori, artinya pemain yang digantung melayang di atas panggung atau Hayagawan, yakni pemain yang berganti baju dengan cara yang sangat cepat. Penggunaan cara-cara seperti itu dianggap bukan cara penyutradaraan yang benar. Berdasarkan kritik-kritik itu berkembang gerakan perbaikan materi teater Kabuki pada zaman Meiji.

2.2.3 Kabuki di Zaman Modern

Di tengah perang dunia kedua, pemerintah mengeluarkan peraturan untuk teater, seperti mengatur pertunjukan karya tertentu. Dengan kondisi seperti itu, Kabuki sulit dipentaskan. Lagipula ada banyak bencana serangan udara yang menimpa gedung teater atau para pemain Kabuki.

Setelah perang dunia kedua berakhir, GHQ (General Headquarters) - militer Amerika yang mematahkan pertahanan Jepang — membatasi pertunjukan Kabuki karena isi karyanya yang dianggap terlalu feodal dan tidak sesuai dengan era demokrasi. Walaupun demikian, bawahan Mc.Arthur Faubion Bowers berusaha mengembalikan pentas Kabuki.

November 1947 karya Kabuki “Kanadehon Chushingura” dipen­taskan kembali dengan menampilkan seluruh aktor papan atas. Kesempatan ini menyelamatkan Kabuki dari krisis pemusnahan. Pada 1960-an dan 1970-an, Jepang menjadi sangat maju dan dunia Kabuki mengalami perubahan. Setelah zaman Meiji, gerakan untuk mengembalikan gaya asli Kabuki semakin luas. Hal ini sebelumnya kurang mendapat perhatian.

Pada 1940 pemerintah Jepang mendaftarkan Kabuki sebagai important intangible cultural heritage – pertunjukan budaya yang sangat penting. Pada 1941 National Theatre Jepang dibuka di Tokyo. Setelah itu, produksi Kabuki kembali berkembang seiring dengan pembukaan gedung tetaer baru, misalnya Shochiku-za di Osaka atau Hakata-za di Fukuoka.

3.1 Simpulan

Kabuki adalah salah satu bentuk drama klasik Jepang yang muncul dan berkembang di Jepang pama jaman Edo era Shogun Tokugawa tahun 1603 – 1867, yang sampai sekarang eksistensinya masih tetap terjaga dan masih sangat digemari oleh masyarakat modern. Meskipun drama Klasik Kabuki merupakan bentuk drama tradisional yang sudah tua usianya, tetapi ia masih sering dipentaskan dan sangat termasyur di dalam maupun di luar masyarakat Jepang.

Hingga akhirnya budaya kabuki mulai meluas dan mendapat perhatian dari pemerintah Jepang dan didaftarkan sebagai important intangible cultural heritage – pertunjukan budaya yang sangat penting. Pada 1941 National Theatre Jepang dibuka di Tokyo. Setelah itu, produksi Kabuki kembali berkembang seiring dengan pembukaan gedung tetaer baru, misalnya Shochiku-za di Osaka atau Hakata-za di Fukuoka.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Johnherf. 2008. Wordprees. “Pesona Kabuki di Tanah Air”. Johnherf.wordpress.com (diunduh hari Selasa tanggal 31 Januari 2012, 20:25)

Renariah. 2008. Pdf. “Kabuki”. Kabuki.pdf (diunduh hari Selasa tanggal 31 Januari 2012, 20:17)

You Might Also Like

0 komentar

Hii All.. Thanks for visiting my blog.. Please leave your comment and connect each other.. Thankyou ^.^