Unsur-unsur Intrisik dalam Novel Kappa

11:02:00 PM

Unsur-unsur Intrisik dalam Novel Kappa

1 Tema : Satire, sindiran dan kritikan, serta sebuah anlisis sosial tentang kehidupan dan budaya masyarakat Jepang.

Penulis menjadikan ini sebuah tema karena banyaknya hal-hal berupa sindiran dan kritikan terhadap kehidupan manusia, dan masyarakat Jepang khususnya yang penulis temukan dalam novel ini. Diantaranya ada kritikan terhadap proses kelahiran anak, seni, hubungan laki-laki dan perempuan, agama, dan kehidupan sosial lainnya.

2 Alur : Maju

Alur cerita pada novel Kappa ini maju terlihat paparan cerita yang dilakoni oleh tokoh utama pada novel ini terus bergerak maju menceritakan kisahnya tanpa ada kisah yang flashback ke kisah sebelumnya. Diawali dari kisah pasien no.23 yang merupakan tokoh utama di novel ini yang bercerita tentang dirinya yang akan mendaki gunung Hodaka, lalu kisahnya setelah sampai di puncak gunung Hodaka yang kemudian ia bertemu dengan Kappa.

Selanjutnya kisah mengenai dirinya yang terdampar ke negeri Kappa. Lalu kisah berlanjut tentang si tokoh utama yang menjalani hidupnya di negeri Kappa. Pada akhirnya cerita berakhir dengan kisah si tokoh utama yang telah kembali kedunia manusia setelah ia keluar dari negeri Kappa, dan ia pun akhirnya menghuni sebuah rumah sakit jiwa yang terletak di Tokyo.
 
3 Tokoh/Penokohan

a. Tokoh Utama:

1. Aku (pasien no.23 di salah satu rumah sakit jiwa di Tokyo)

Aku yang merupakan tokoh utama dalam novel ini memiliki karakter yang sera ingin tahun dan memiliki rasa penasaran yang tinggi, yaitu ketika tokoh “Aku” melihat kappa yang kemudian menghilang, tokoh “Aku” kemudian mencari dan berusaha menangkapnya sampai akhrinya tokoh “Aku” terjerambab ke sebuah ngarai yang dalam dan gelap.

“Aku terus berusaha mencari makhluk itu lagi, aku menyapukan pemandangan ke pepohonan bambu...” (Akutagawa, 2000 : 18)

Tokoh utama “Aku” juga merupakan tokoh yang sangat menghargai orang lain dalam bercerita, sekelipun cerita yang disajikan cukup membeosankan.

“Segera saja aku mersa lelah dan letih dengan penjelasan yang singkat ini; penejelasan orang tua itu lebih mirip alegori model lama. Tetapi tidak perlu aku ceritakan bahwa aku menyembunyikan rasa sakitku untuk menarik perhatian...” (Akutagawa, 2000 : 94)

2. Dr. Chak (Kappa)

Dr. Chak yaitu kappa yang baik hati dan merawat tokoh “Aku”, lalu kemudian menempatkannya sebagai tetangga dengan status ‘orang yang dilindungi secara khusus’.

“Chak menyuruh para pengusung tandu itu untuk membaringkanku di sebuah ranjang yang rapi dan kemudian menyuruhku untuk minum segelas obat.” (Akutagawa, 2000 : 22)

3. Bag (Kappa pencari ikan)

Bag, kappa pencari ikan yaitu kappa yang bertemu dengan tokoh “Aku” di lembah berkabut. (Akutagawa, 2000 : 22)

Bag juga merupakan kappa yang perhatian dan suka mengelabuhi.

“aku sungguh sangat menyesal atas apa yang terjadi. Lihat, sangatlah menarik menyaksikan seorang laki-laki merasa khawatir. Lalu aku sedikit terlarut dan tidk dapat menahan diri untuk mengelabuhi.” (Akutagawa, 2000 : 25)

4. Tok (Kappa penyair)

Tok merupakan seorang penyair di lingkungan seniman kappa. Tok merupakan kappa yang selalu terlihat menyenangkan.

“Tok adalah penyair di lingkungan seniman kappa. Ia memanjangkan rambut sebagaimana penyair Jepang. Dari waktu ke waktu, aku lebih suka mengunjungi Tok di rumahnya untuk membunuh hari-hari yang membosankan. Ia selalu terlihat menyenangkan: menulis puisi da merokok di dalam kamar yang dihiasi tananman yang dirawat di dalam pot...” (Akutagawa, 2000 : hal 35),

Tok yaitu kappa yang penganut cinta bebas sehingga ia tidak memiliki istri, (Kappa, hal 36). Tok juga suka senyum, dan merupakan kappa yang berpikir bahwa ia adalah pemuja super-kappa, dan selalu cemburu dengan kehidupan keluarga kappa lain.

“Lihatlah aku! Inilah aku yang berpikir bahwa diriku adalah seorang dan pemuja super-kappa; namun ketika aku menyaksikan pemandangan keluarga seperti ini, berakhir dengan kecemburuan. Yah...” (Akutagawa, 2000 : 39)

Tok juga merupakan kappa yang cepat lelah dalam menghadapi kehidupan. Terbukti dengan kasus bunuh diri yang dialami oleh Tok dengan menodongkan pisau di kepalanya dan menembaknya.

“Entahlah, aku sama sekali tidak tahu. Yang aku tahu, ia sedang sibuk menulis sesuatu dan, sebelum aku menyadarinya, tiba-tiba ia menodongkan pistol di kepalanya dan menembaknya.” (Akutagawa, 2000 : 85)

Para kappa lain juga beranggapan tentang Tok yang merupakan kappa yang egois meninggalkan istri dan anak-anaknya tampa memikirkan masa depan mereka.

“Ya Tuhan! Seseorang telah merasakan kesedihan atas seseorang yang telah membuatnya seperti di rumah sendiri, seegois Tok, benar kan?” (Akutagawa, 2000 : 88)

Tok juga merupakan kappa yang sangat mengidamkan kemahsyuran. Hal ini terbukti setelah Tok mati, ia menjadi hantu dan menanyakan tentang reputasinya setelah mati.

“Karena aku ingin tahu reputasi apa yang aku peroleh setelah kematianku.” (Akutagawa, 2000 : 105)

b. Tokoh Tambahan

1. Gael (seorang direktur perusahaan gelas di negeri Kappa)

Gael merupakan kappa yang kapitalis diantara semua kapitalis, dan merupakan kappa yang sangat pandai bergaul, serta pandai berbicara dengan gaya yang menyenangkan.

“Di balik semua itu, tidak diragukan lagi Gael, direktur pabrik gelas raksasa itu, adalah seorang yang sangat pandai bergaul.” (Akutagawa, 2000 : 57)

“Gael adalah satu-satunya kappa yang mau berbicara dengan gaya menyenangkan tentang apapun di bawah siraman sinar matahari.” (Akutagawa, 2000 : 57)

Lap (si murid kappa)

Lap adalah kappa yang baik hati dan perhatian pada tokoh “aku”.

“Ternyata Lap sangat perhatian padaku sebagaimana halnya Bag. Keduanya telah melakukan banyak hal yang membantuku. Lap bahkan memperkenalkanku dengan kappa lain bernama Tok-inilah yang menjadi salah satu kebaikan hati Lap yang tak terlupakan.” (Akutagawa, 2000 : 35)

Mag (si Kappa filsuf)

Mag adalah kappa yang selalu berpenampilan menjijikan dan jarang berspekulasi untuk keluar rumah.

“Ia tinggal di sebuah rumah di sebelah rumah penyair Tok. Tidak diragukan lagi, alasannya adalah bahwa hanya sedikit kappa yang memiliki penampilan yang menjijikan seperti dirinya; alasan lain yang mungkin adalah bahwa ia praktis mengisi hari-harinya di rumah, jarang berspekulasi untuk keluar rumah.” (Akutagawa, 2000 : 44)


Krabach (komposer terkenal di negeri Kappa)

Krabach merupakan komposer yang terkenal di negeri kappa, dan merupakan anggota klub super-kappa.

“ Menurut penilaian Tok, Krabach adalah pemain jenius yang paling terkenal di antara banyak komposer yang dihasilkan negeri kappa. Aku sangat terpesona permainan musiknya, juga puisi liriknya yang ia tulis sebagai pengiring, hingga aku menyimaknya dengan seksama pada nada-nada yang keluar dari piano besar berbentuk seperti busur panah. Bahkan Tok (juga Mag karena alasan yang sama) mungkin lebih terpesona daripada aku.” (Akutagawa, 2000 : 47)

Krabach merupakan kappa yang sangat mempertahankan harga diri dan keberadaannya sebagai musisi hebat.

“...Namun meskipun demikian ia berpikir untuk habis-habisan mempertahankan harga diri dan keberadaan sebagai musisi hebat dengan sorot matanya yang tajam dan mengerikan.” (Akutagawa, 2000 : 51)

Krabach juga merupakan kappa yang hidup dalam lingkungan yang sangat mewah, mengoleksi berbagai macam perhiasan pecah belah. (Akutagawa, 2000 : 69).
Hakim Pep

Pep adalah hakim di negeri kappa. Pep memiliki sikap yang dingin dalam berbicara.

“Aku berusaha sebaik mungkin membuat ironi dalam jawaban ini. Setidaknya untuk menyindir Pep, sikapnya yang dingin telah menyebabkan ketidaksenanganku.” (Akutagawa, 2000 : 82)


Kappa betina istri Tok

Kappa yang sangat sedih ketika kasus bunuh diri suaminya, Tok.

“Sejak memasuki rumah Tok, ratapan istri Tok tidak pernah berhenti sekejap pun.” (Akutagawa, 2000 : 88)


Nyonya Hop (Mediator komunitas untuk studi psikis)

Nonya Hop merupakan mediator yang sangat dipercaya dalam komunitas studi psikis.

“Lebih lanjut, kami berharap dapat memberikan penghargaan yang setimpal atas jasa mediator kami yang terpercaya, Nyonya Hop. Oenghargaan yang semestinya ia terima bilamana ia main panggung.” (Akutagawa, 2000 : 110)

Bapak Pek (Presiden komunitas untuk studi psikis)

Penulis tidak menemukan penjelasan yang banyak tentang tokoh ini. Selain kehadiran tokoh yang hanya sebentar, tokoh pun juga tidak begitu berperan penting dalam cerita ini.
Kappa Tua

Merupakan kappa yang telah berumur kira-kira 115 atau 116 tahun, tapi kelihatan seperti anak kecil karena bentuk dan wajahnya yang semakin memuda.

“Ah! Anda belum tahu persis siapa saya, bukan? Saya tidak tahu kenapa takdir telah menjadikan aku seperti ini, namun semua rambut di kepalaku telah memutih sejak saya dilahirkan dari rahim ibu. Lalu aku tumbuh semakin muda dan sekarang, seperti yang Anda lihat, saya telah berubah menjadi anak kecil. Namun jika anda menanyakan usia saya, barangkali saya berusia kira-kira 115 atau 116 tahun, dengan anggapan saya telah berusia enam puluh tahun ketika dilahirkan.” (Akutagawa, 2000 : 112)
 
4 Latar/Setting

a. Latar tempat

Latar tempat berawalnya kisah pada novel ini adalah disebuah penginapan di tempat peristirahatan air panas di Kamikochi. Dan selanjutnya tokoh utama mendaki gunung Hodaka yang satu-satunya cara mendaki gunung ini adalah melalui sebuah jalur sempit di sepanjang lembah sungai Azusa. Dan kemudian di tengah perjalanan akhirnya tokoh utama terdampar ke negeri Kappa ketika ia hendak kembali ke penginapannya. Dan selajutnya latar kisah pada novel ini pun terfokus di negeri Kappa yang diceritakan negeri Kappa berada di bawah tanah.

b. Latar waktu

Kisah pada novel ini dimulai pada suatu pagi di musim panas (tiga tahun) sebelum tahun 1927.

c. Latar suasana

Kisah pada novel ini berlatar suasana kehidupan sosial antara kappa dan masyarakat Jepang yang berkisah pada zaman Taisho.
 
5 Sudut Pandang

Sudut pandang pada novel ini merupakan sudut pandang pertama melalui sudut pandang orang gila di salah satu rumah sakit jiwa yang berada di Tokyo. Ini terlihat pada bagian awal cerita dikisahkan pasien no.23 ini bercerita mengenai kisahnya yang pernah terdampar di negeri Kappa. Selanjutya dalam penceritaan novel ini bercerita tentang “Aku” yang mulai memaparkan kisahnya.
 
6 Gaya Bahasa

Gaya penceriteraan dalam novel ini cukup sederhana sehingga mudah diikuti, yang rumit adalah menafsirkan satir-satirnya. Gaya bahasa satire yaitu, berasal dari kata latin yang berarti campuran. Tulisan yang mengandung satire disini maksudnya adalah tulisan yang menggunakan gaya bahasa yang berisi sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Hal ini terlihat banyaknya sindiran-sindiran yang terdapat dalam novel ini terhadap masyarakat Jepang. Diantaranya terdapat sindiran terhadap seni, hubungan laki-laki dan Perempuan, serta sindiran terhadap agama.

“Ayo kita kerahkan Pasukan Keturunan Sukarela kita

Biarkan semua kappa yang kuat dan besar

Mengawini kappa-kappa yang cacat dan tidak sehat

Untuk membasmi keturunan yang jelek.” (Akutagawa, 2000 : 32)

“Seni tidak seharusnya dikendalikan oleh sesuatu atau siapa pun. Seni hanyalah untuk seni, karena itu perhatian utama dari seniman haruslah membuat dirinya sebagai super-kappa melebihi semua gagasan tentang baik dan buruk.” (Akutagawa, 2000 : 37)

“Inti dari melukis dan menulis adalah bahwa harus jelas bagi semua orang apa sebenarnya maksud si pelukis dan penulis dalam lukisan dan tulisannya.” (Akutagawa, 2000 : 50)

“Nasib kami ditentukan oleh tiga hal : keyakinan, lingkungan, dan kesempatan. Tentu saja, kalian manusia menambahnya dengan keturunan dalam tiga aspek ini sehingga menjadi empat faktor. Malangnya, Tok yang malang itu tidak memiliki keyakinan. Tok iri pada Anda, saya sangat yakin akan hal itu.” (Akutagawa, 2000 : 100)
 
7 Amanat

Kappa menceritakan tentang merosotnya nilai moral manusia yang disebabkan oleh hasil kemajuan pola pikir manusia sendiri yang merupakan akibat dari masuknya modernisasi dan kebudayaan Barat secara besar – besaran di Jepang pada saat itu. Sehinggga dalam novel ini pengarang seakan – akan ingin menekankan amanat bahwa moral adalah tergantung dari siapa yang berkuasa, dan dapat berubah sesuai keinginan penguasa. Moral yang baik adalah yang sesuai dengan keinginan penguasa, atau pemerintah. Sesuatu yang dianggap baik pada periode tertentu, belum tentu baik pula pada masa berikutnya menurut Akutagawa Ryunosuke.

You Might Also Like

1 komentar

Hii All.. Thanks for visiting my blog.. Please leave your comment and connect each other.. Thankyou ^.^