Japan Culture

MITOLOGI JEPANG

11:17:00 PM

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap negara memiliki mitos mengenai negaranya masing-masing. Demikian pula dengan negara Jepang. Kebudayaan Jepang mengenal banyak sekali dewa-dewa yang disebut kami, bahkan menurut mitologinya, kepulauan jepang sendiri lahir dari para dewa. Jepang merupakan bangsa yang unik, jika dikaitkan dengan sistem kepercayaanya. Secara umum, kepercayaan bangsa Jepang akan dewa yang dipuja dan dipercaya memiliki kekuatan jauh melampaui manusia, dipengaruhi oleh 3 kepercayaan, yaitu: Shinto, Buddhinisme, dan Taoisme. Atau bahkan Hindu. Semuanya itu melebur menjadi bagian dari mitologi Jepang. Berkaitan dengan itu, kita bisa mengetahui karakterisitik masyarakat Jepang tentang bagaimana mitologi itu sendiri berpengaruh bagi mereka.

1.2 Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah agar kita dapat mengetahui serta memahami tentang mitologi dari negara Jepang.

1.3 Rumusan Masalah

a. Pengertian Mitologi

b. Bagaimana asal usul mitologi Jepang?

c. Mitologi yang Terkenal di Jepang

d. Perbandingan Mitologi Jepang dan Indonesia

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Mitologi

Istilah Mitologi telah dipakai sejak abad 15, dan berati “ilmu yang menjelaskan tentang mitos”. Di masa sekarang, Mitologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah ilmu tentang bentuk sastra yang mengandung konsepsi dan dongeng suci mengenai kehidupan Dewa dan makhluk halus di suatu kebudayaan. Menurut pakarnya, mitos tidak boleh disamakan dengan fabel, legenda, cerita rakyat, dongeng, anekdot atau kisah fiksi. Mitos dan agama juga berbeda, namun meliputi beberapa aspek.

Mitologi terkait dekat dengan legenda maupun cerita rakyat. Berbeda dengan mitologi, pada cerita rakyat, waktu dan tempat tidak spesifik dan ceritanya tidak dinggap sebagai suatu yang suci yang dipercaya kebenarannya. Sedangkan legenda, meskipun kejadiannya dianggap benar, pelaku-pelakunya pada legenda adalah manusia bukan dewa dan monster seperti pada mitologi.

Kata mitologi, berasal dari bahasa Inggeris “myth”. Dalam kamus Webster New World College Dictionary 3rd Edition, kata “myth” diartikan sebagai : “1) any fictitious story; or unscientific account, theory, belief, etc 2) any imaginary persons or thing spoken as though existing.” Artinya : 1) sembarang kisah atau cerita fiksi (tidak nyata/hayalan/dongeng); atau kejadian, teori dan kepercayaan dan lain-lain yang tidak bersifat ilmiah. 2) sembarang orang atau sesuatu yang dikatakan seolah-olah benar-benar ada.

2.2 Mitologi Jepang

2.2.1 Asal Usul Mitologi Jepang

Folklor dalam mitologi Jepang, hampir seluruhnya berdasarkan cerita yang terdapat dalam Kojiki, Nihonshoki, dan Fudoki dari berbagai provinsi di Jepang. Di zaman kuno, setiap daerah di Jepang diperkirakan memiliki sejenis kepercayaan dalam berbagai bentuk dan folklor. Bersamaan dengan meluasnya kekuasaan Kekaisaran Yamato, berbagai macam kepercayaan diadaptasi menjadi Kunitsugami atau "dewa yang dipuja" yang bentuknya menjadi hampir seragam, dan semuanya dikumpulkan ke dalam "mitologi Takamanohara".

Sementara itu, sampai di abad berikutnya wilayah dan penduduk yang tidak dikuasai Kekaisaran Yamato atau pemerintah pusat Jepang yang lain, seperti Suku Ainu dan orang Kepulauan Ryūkyū, masing-masing juga memiliki mitologi sendiri.

Di abad pertengahan berkembang mitologi Jepang abad pertengahan ( Chuusei Nihongi) dengan isi yang berbeda dari mitologi sebelumnya. Mitologi Jepang abad pertengahan tetap berpedoman pada Nihonshoki tapi dikembangkan hingga menjadi sangat berbeda dengan versi aslinya. Mitologi Jepang abad pertengahan ditemukan dalam epik perang seperti Taiheiki, buku penggubahan syair dan anotasinya, serta berbagai Engi (buku catatan asal-usul dan sejarah milik kuil agama Buddha dan Shinto). Dalam mitologi Jepang abad pertengahan, berbagai kami dalam Kojiki dan Nihonshoki berdasarkan teori Honji Sujijaku dikenali sebagai perwujudan sementara para Buddha dan Bodhisattva. Selain itu, mitologi Jepang abad pertengahan bercampur dengan unsur-unsur yang diambil dari seni dan cerita rakyat mitologi berbagai daerah, serta menampilkan tingkat kedewaan dan benda-benda yang tidak ada di dalam Kojiki dan Nihonshoki.

Bahan untuk menyusun mitologi Jepang pada umumnya bersumberkan pada dua sumber tertulis, yaitu:

1. Kojiki 古時期(712 M)

Sumber tertulis yang merupakan catatan mengenai hal-hal kuno.

2. Nihon Shoki 日本初期/ Nihongi (720 M)

Sumber tertulis dari sejarah Jepang (chronicle).

3. Kogo Shũi 古語周囲(807 M)

Sumber dari karya Imbe no Hironari, yang mengandung mite dan legenda yang diwariskan dalam keluarga Imbe.

4. Fudoki

Izumo no Kuni Fudoki (733 M)

5. Shoki Nihongi (797 M)

6. Man’yőshũ万葉集

Sumber dari antologi puisi abad ke-8 koleksi dari 10 ribu generasi.

7. Norito

Sumber dari liturgi keagamaan dari keraton, yang dikumpulkan pada akhir abad ke-19 di dalam buku Engi Shiki ’prosedur-prosedur dari era Engi’.



2.2.2 Mitologi Terbentuknya Negara Jepang

Mitologi menurut beberapa belahan dunia menyatakan bahwa sebelum terciptanya dunia, yang ada hanyalah chaos ‘ketidakberaturan’. Mitologi jepang percaya bahwa dari chaos itu muncul surga/langit dan bumi. Dari surga terciptalah Ame no Minaka Nushi no Mikoto, kemudian Takami Musubi no Mikota, diikuti oleh sosok ketuhanan yang ketiga yaitu Kammi Musubi no Mikoto. Ketiga Mikoto pertama disebut sebagai pencipta (Heavenly Deities), bukan dewa. Dari ketiga Mikoto tersebut terciptalah 7 pasang Mikoto lainnya. Para Mikoto ini kemudian menciptakan sepasang dewa-dewi. Izanagi no Mikoto dan Izanami no Mikoto, yang diperintah untuk menciptakan jepang.

Dewa Izanagi dan dewi Izanami dibekali dengan tombak sakti Amanonuhoko, keduanya diutus ke Amenoukihashi sebuah jembatan yang memisahkan antara bumi dan surga. Dari Amenounikihashi, mereka menurunkan tombak Amanonuhoko kedalam laut. Ketika diangkat kembali, tetesan air laut yang jatuh berubah menjadi pulau. Di pulau tersebut mereka mulai membentuk dunia baru. Izanagi dan Izanami melahirkan anak-anak pertama, Hiruko dan Awashima, namun tidak sempurna bentuknya dan tidak dianggap sebagai dewa sehingga keduanya dibuang ke laut.
Selanjutnya Izanagi dan Izanami melahirkan Ouyashima-kuni atau delapan pulau besar di Jepang, yaitu: Awazi, Iyo [Shikoku], Ogi, Tsukushi [Kyushu], Iki, Tsushima, Sado dan Yamato [Honshu]. Pulau Hokkaido, Chishima dan Okinawa tidak termasuk dalam kepulauan jepang menurut mitologi kuno. Izanami masih terus melahirkan banyak pulau dan dewa-dewi. Tetapi ketika melahirkan dewa api, Kagutsuchi, tubuhnya terbakar dan meninggalkan dunia menuju Yomi, dunia orang mati.

2.3 Mitologi yang Terkenal Di Jepang

2.3.1 Mitologi Dewa-dewi

1) Izanagi dan izanami

Dewa-dewi Izanagi dan Izanami merupakan pencipta Jepang dan dewa-dewi lainnya. Jadi, merekalah asal usul dari segala sesuatu yang ada di Jepang.

2) Amaterasu (dewa matahari)

Amaterasu Amaterasu-ōmikami atau Ōhiru-menomuchi-no-kami dalam mitologi Jepang adalah dewa matahari dan merupakan dewa (神 kami) Shinto yang paling penting. Ia lahir dari mata kiri Izanagi. Ia juga dikatakan berhubungan secara langsung dengan garis silsilah rumah tangga kerajaan Jepang dan kaisar. Dewa Matahari, merupakan dewa terpopuler dalam mitologi Jepang. Namanya dapat diartikan sebagai "dialah yang membuat kahyangan bersinar".

3) Susano’o (dewa badai)

Dewa badai dalam kepercayaan Shinto. Susano-Wo adalah dewa yang mebinasakan sebuah monster ular bernama Yamata no Orochi dan mendapatkan sebilah pedang bernama Kusanagi di ekor ular tersebut. Konon Ia dikisahkan memiliki perseteruan dengan Amaterasu.

4) Tsukiyomi (Dewa bulan)

Tsukiyomi merupakan anak ke-3 dari Izanagi. Ada versi yang menceritakan tsukiyomi membunuh dewi makanan lalu memancing kemarahan Amaterasu. Amaterasu mengatakan ia tidak ingin melihat adiknya itu lagi. Sehingga pada saat itu matahari dan bulan tidak pernah muncul bersamaan.

5) Azen Myoo (dewa cinta)

Azen myoo adalah dewa cinta yang mengubah nafsu menjadi keinginan untuk mencapai pencerahan atau belas kasih bagi seluruh makhluk hidup.

6) Ame no uzume (dewi fajar)

Dikenal dengan nama Uzume, merupakan dewi fajar yang berhasil membujuk Amaterasu keluar dari persembunyian dengan tariannya. Ada versi yang menceritakan bahwa Uzume menikah dengan pangeran kera.

7) Kami-Kaze

Dewa angin topan. Nama nya kemudian menjadi nama salah satu topan yang melanda jepang, dan dikenal sbg topan yang pernah membantu Jepang dalam invasi mongol pada tahun 1281. Istilah Kamikaze juga digunakan sebagai sebutan taktik serangan bunuh diri.

8) Kishimo-Jin

Kishimo-Jin adalah Dewi ibu segala setan, yang gemar menyantap anak-anak. Pada akhirnya Kishimo-Jin bertobat setelah diberi pelajaran oleh Buddha dan menjadi pengikut Buddha. Ia kemudian menjadi pelindung anak-anak.

2.3.2 Mitologi Makhluk-makhluk Jepang

1) Kappa

Kappa mirip setan kecil, sering juga disebut monyet air. Seekor Kappa memiliki lekukan di atas kepalanya dan lekukan itu dipenuhi air dari mata air asli. Jika air tersebut tumpah, kekuatan magisnya hilang. Kappa biasanya minum darah, tapi itu tergantung apakah dia baik atau jahat.

Kappa suka mentimun, dan apabila ada keluarga yang ingin dilindungi Kappa atau menghindari kesialan, mereka biasanya menulis nama mereka di mentimun dan melemparnya di kolam Kappa. Makhluk ini dikenal sopan dan selalu menepati janji. Yang aneh dalam cerita Kappa di cerita rakyat Jepang adalah banyaknya versi Kappa yang berbeda. Ada Kappa bermata satu, Kappa berbulu, Kappa penakut, Kappa pendaki gunung dan bahkan pesta Kappa.

2) Heikegani

Kepiting Heikegani adalah salah satu spesies artropoda asli Jepang. Asalnya, mitos Jepang menyatakan bahwa kepiting ini menanggung wajah Heike samurai yang tewas dalam pertempuran Dan-no-ura, dan memang tubuh kepiting ini mirip wajah manusia. Carl Saham mengatakan, di masa lalu, orang-orang Jepang hanya memakan kepiting Heikegani yang tidak mirip wajah samurai agar mereka bisa selamat dan mendapat keturunan. Dewasa ini, kebanyakan kepiting ini memiliki tubuh yang menyerupai wajah manusia (meski hanya berdiameter 1 atau 2 inci). Kepiting ini jarang dimakan.

3) Kasa-obake

Kasa-obake adalah jenis Tsukumogami, benda yang tiba-tiba menjadi hidup setelah ada selama 100 tahun. Gagasan tentang benda mati yang tiba-tiba hidup tampaknya masuk akal jika melihat awal mula berbagai cerita rakyat atau legenda. Hal yang aneh tentang Kasa-obake adalah bahwa mereka mempunyai nama mereka sendiri, hanya untuk memisahkan mereka dari Tsukumogami lain. Memang benar, Kasa-obake adalah nama setang payung.

4) Nuppeppo

Nuppeppo adalah setan gumpalan daging manusia yang tebal berlipat-lipat seperti lemak yang bergelambir dan mempunyai bau yanng tak sedap. Mereka berjalan dengan tangan dan sering ditemukan di kuburan atau kuil kosong tengah malam. Dalam kisah Tokugawa yang mendapat ilmu dari seorang ahli yang pernah membaca literatur China, bahwa memakan kulit makhluk ini bermanfaat untuk mengembalikan vitalitas dan menjadi awet muda.

5) Makura-gaeshi

Makura-gaeshi adalah roh jahil yang terkenal suka menggeser bantal saat orang tidur. Beberapa sumber mengatakan mereka juga suka menaburkan pasir di mata manusia dan mencuri jiwa, tapi yang paling dikenal dari kejahilan hantu ini adalah suka menggeser bantal. Tidak ada cerita yang menjelaskan seberapa jauh bantal dipindahkan, beberapa sumber menceritakan mereka hanya menjatuhkan bantal tersebut saat pemiliknya tertidur pulas.

6) Mokumokuren

Mokumokuren juga salah satu dari setan Jepang yang suka melakukan hal aneh. Di zaman Jepang kuno, pintu geser terbuat dari kertas biasa. Tentunya kertas tersebut bisa berlubang dan sobek. Mokumokuren adalah roh yang mendiami kertas pintu geser yang berlubang. Jika pemilik pintu geser ceroboh dan kertasnya banyak lubang, banyak pula Mokumokuren yang mengintip lewat lubang tersebut. Memang hal ini agak menakutkan. Satu-satunya cara untuk menyingkirkan Mokumokuren adalah memperbaiki lubang-lubang pintu.

7) Konak Jiji

Konak jiji adalah makhluk kecil yang jahat. Hantu ini berbentuk bayi dan bersembunyi di daerah pegunungan terpencil menunggu pejalan kaki lewat. Ketika korban sudah di depan mata, Konak jiji mulai menangis, dan pejalan kaki yang punya hati tentu akan mencari dan menghentikan tangisan bayi dengan menghiburnya. Padahal itu adalah kesalahan besar. Saat Konak jiji diangkat, beratnya akan bertambah tak tertahankan. Beberapa sumber mengatakan mereka bisa tumbuh hingga 350 kilogram, cukup untuk membuat kerusakan serius bagi siapa yang mengangkatnya. Terkadang si korban tidak bisa menjatuhkan Konak jiji karena lumpuh. Namun, jika ada yang bisa bertahan dengan berat Konak jiji, hal itu akan memberikan kekuatan gaib.

8) Akaname

Akaname dapat diartikan sebagai ‘penjilat kotoran’, dan itu tidak salah. Akaname adalah jenis hantu Jepang mengeriikan yang menjilat kamar mandi kotor dengan bantuan lidah dan air liur beracun. Hal ini diyakini merupakan cara orang tua agar anak-anaknya menjaga kebersihan kamar mandi.

9) Ittan Momen

Ittan momen berbentuk sepotong kain putih sepanjang 33 kaki. Kebiasaannya terbang beas di malam hari, agak aneh, tapi tidak terlalu menakutkan. Makhluk ini memang tidak menakutkan, sampai mereka melakukan kejahatan mereka. Mereka membungkus kepala orang dan meremukkan tengkoraknya sampai mati. Walau begitu, Ittan momen senang jika mendapatkan kepercayaan dari orang-orang untuk dikenakan.

10) Shirme

Shirme adalah sebutan untuk laki-laki yang matanya di anus. Tidak banyak informasi tentangnya sekarang ini. Cerita tentang Shirme itu mengisahkan tentang seorang samurai yang sedang berjalan sendiri di malah hari ketika seseorang memanggilnya. Ia berpaling dan melihat seorang laki-laki misterius membuka baju dan menunjukkan bokongnya dan mata berkilauan muncul dari situ. Samurai itu ketakutan dan melarikan diri. Sejak itu Shirme tidak pernah terlihat lagi.

2.3.3 Mitos dalam Kehidupan Masyarakat Jepang

1) Tabeta ato, sugu yoko ni naruto, ushi ni naru!

Arti dari kalimat di atas adalah: “Kalau habis makan langsung rebahan bisa jadi sapi!”. Meski zaman telah modern, banyak orang tua Jepang yang masih memperingati anaknya dengan kata-kata seperti di atas. Secara jelas alasan kenapa kata-kata ini dipakai tidak diketahui. Tapi jika dianalisa, zaman dahulu Jepang berbeda dengan zaman sekarang yang serba canggih, mereka dulu harus bekerja keras agar dapat hidup (terutama setelah pemboman Nagasaki & Hiroshima). Agar anak-anak bersedia membantu orang tua bekerja di ladang, mereka selalu mengatakan begitu.

2) Hinakazari wo hayakushimawanaito, yome ni ikiokureru.

Arti dari kalimat di atas adalah: “Kalau hiasan boneka `hina` tidak segera disimpan, nantinya akan telat nikah.” Pajangan boneka Hina ini, harus segera disimpan atau dirapikan jika telah lewat dari tanggal 3 Maret. Apabila tidak segera dirapikan untuk disimpan, mereka percaya bahwa si anak perempuan tersebut akan telat menikah nantinya.

3) Shitewa ikenai koto

Shitewa ikenai koto artinya sesuatu hal tidak boleh dikerjakan. Dalam kepercayaan Jepang, ada beberapa hal yang tidak boleh dikerjakan seseorang karena mengandung firasat buruk, diantaranya:

a. Tidak boleh menyuguhkan makanan dengan jumlah empat 4 buah. Angka empat 4 dalam bahasa jepang selain dibaca `Yon` juga dibaca `Shi`. Kata `Shi` sendiri berarti “kematian”. Berdasarkan hal tersebut, jika kita menyuguhkan kue dengan jumlah empat, maka seolah-olah kita mengundang kematian. Orang yang memakannya akan segera meninggalkan dunia fana.

b. Tidak boleh menancapkan sumpit makan di tengah nasi. Saat kematian orang Jepang, kepala jenasah harus diberi bantal yang disebut “Makurameshi”. Bentuk dari makurameshi tersebut sama dengan bentuk sumpit yang ditancapkan di tengah nasi. Apabila kita melakukan perbuatan menancapkan sumpit di tengah nasi, berarti akan mempercepat kematian, begitu menurut kepercayaan orang Jepang.

c. Tidak boleh saling mengambil/menerima makanan dari sumpit ke sumpit secara langsung. Setelah meninggal, biasanya orang Jepang akan membakar jasad dari jenasah (kremasi). Dalam pembakaran tidak semua jasad berubah menjadi abu, masih ada beberapa serpihan tulang belulang yang tidak terbakar. Biasanya serpihan tulang belulang yang masih tertinggal akan dikumpulkan oleh dua orang atau beberapa orang mengunakan sumpit dan dimasukan ke dalam `Kotsutsubo` (tempat abu & tulang berbentuk botol kecil atau kotak). Jika kita saling mengambil/menerima makanan dari sumpit ke sumpit secara langsung, berarti dipercaya bahwa kita sama denganmemakan tulang orang yang telah meninggal.

2.4 Perbandingan Mitologi Jepang dengan Mitologi Indonesia

Menurut mitologi Indonesia, penciptaan manusia diketahui dalam kitab-kitab suci agama-agama (Yahudi, Kristen dan Islam) yang memiliki kesamaan struktur atau morfologi penuturan yang sama. Dalam kitab-kitab itu dinyatakan Tuhan menciptaan manusia pertama, yaitu Adam. Adam dibuat dari tanah, dibentuk dan dihembuskan nafas kehidupan. Dan terciptalah manusia pertama, dan selanjutnya menurut kitab ini Tuhan menciptakan Hawa sebagai isteri Adam.

Sedangkan dalam mitologi asal-usul masyarakat Jepang, mitologi diketahui dari Nihonshoki, Kojiki 古時期(712 M), Nihon Shoki 日本初期/ Nihongi (720 M), Kogo Shũi 古語周囲(807 M), dan Fudoki. Contoh perkawinan antara dewa-dewi terlihat ketika Izanagi dan Izanami ikut membantu menciptakan dunia. Pada saat itu mereka melakukan perkawinan (pembuahan), dan bayi Hiruko pun lahir. Tetapi kemudian Hiruko dibuang dan diletakkan di atas perahu dari jerami. Pada saat itu pulau Awashima juga dilahirkan, tetapi Hiruko dan pulau Awashima tidak dihitung sebagai anak mereka.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Istilah Mitologi telah dipakai sejak abad 15, dan berati “ilmu yang menjelaskan tentang mitos”. Di masa sekarang, Mitologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah ilmu tentang bentuk sastra yang mengandung konsepsi dan dongeng suci mengenai kehidupan Dewa dan makhluk halus di suatu kebudayaan. Menurut pakarnya, mitos tidak boleh disamakan dengan fabel, legenda, cerita rakyat, dongeng, anekdot atau kisah fiksi. Mitos dan agama juga berbeda, namun meliputi beberapa aspek.

Menurut mitologi Indonesia, penciptaan manusia diketahui dalam kitab-kitab suci agama-agama (Yahudi, Kristen dan Islam) yang memiliki kesamaan struktur atau morfologi penuturan yang sama. Sedangkan dalam mitologi asal-usul masyarakat Jepang, mitologi diketahui dari Nihonshoki, Kojiki 古時期(712 M), Nihon Shoki 日本初期/ Nihongi (720 M), Kogo Shũi 古語周囲(807 M), dan Fudoki.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Dananjaya, James. 1997. Folklore Jepang Dilihat dari Kacamata Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
Terselubung. 2010. Dewa-Dewi Mitologi Jepang. Blog.
http://terselubung.blogspot.com/2010/02/dewa-dewi-mitologi-jepang.html (diunduh pada tanggal 21 Oktober 2011 pukul 20:01 WIB)

You Might Also Like

3 komentar

Hii All.. Thanks for visiting my blog.. Please leave your comment and connect each other.. Thankyou ^.^