Japan Language

Shieki

3:20:00 PM

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Bahasa adalah salah satu komponen yang paling penting dalam kehidupan manusia. Dalam bentuk tulisan, bahasa menyimpan pengetahuan dari satu generasi ke generasi lain. Sedangkan dalam bentuk lisan, bahasa berperan dalam mengarahkan tingkah laku manusia sehari-hari dalam berhubungan dengan orang lain. Salah satu bahasa asing yang banyak dipelajari di Indonesia adalah bahasa Jepang. Agar dapat berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Jepang baik secara lisan maupun tulisan tentu seseorang harus menguasai semua aspek kebahasaan Jepang mulai dari huruf, kosakata, kelas kata, tata bahasa maupun aspek pragmatiknya (bagaimana bahasa Jepang digunakan oleh penutur aslinya).

Salah satu masalah dalam tata bahasa jepang yaitu shieki atau kalimat kausatif. Shieki cukup rumit dipahami bagi pembelajar bahsa asing karena dalam penerapannya, kalimat kausatif memiliki banyak variasi..

1.2  Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah agar kita dapat memahami apa itu shieki, mengetahui bentuk O-kausatif dan ni-kausatif, memahami masalah The Double-o Constraint (Kendala o-ganda), memahami struktur kausatif dalam bahasa Jepang, mengetahui proses sebuah kalimat kausatif menjadi kalimat kausatif pasif. Serta mengetahui kausatif adversatif dan kausatif leksikal.

1.3  Rumusan Masalah
a.       Apakah Pengertian 使役shieki’?
b.      Bagaimana bentuk O-kausatif dan ni-kausatif?
c.       Apakah yang dimaksud The Double-o Constraint (Kendala o-ganda)?
d.      Bagaimana Struktur kausatif dalam bahasa Jepang?
e.       Bagaimana sebuah kalimat kausatif menjadi kalimat kausatif pasif?
f.       Apa itu kausatif adversatif?
g.      Bagaimana penjelasan mengenai kausatif leksikal?


BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pengertian 使役 shieki’
使役 shieki’, atau dalam bahasa Indonesianya disebut kata kerja kausatif. Secara harfiah, kata kerja kausatif adalah bentuk verba yang menyatakan sebab atau menjadikan sesuatu terjadi.
Kata kerja Kausatif menunjukkan arti pemaksaan dan pemberian izin. Kata kerja ini digunakan oleh orang yang kedudukannya lebih tinggi untuk memaksa seseorang yang kedudukannya lebih rendah untuk melakukan sesuatu atau untuk memberinya izin melakukan sesuatu.

Bentuk perubahan shieki, dapat dilihat lewat tabel berikut.
Gol
Verba
使役「Kata kerja kausatif
Bentuk Sopan 「ます」
Bentuk Biasa 「る」
Bentuk Lampau 「た」
Bentuk
I
いきます
いかせます
いかせる
いかせた
いかせて
II
たべます
たべます
たべさせる
たべさせた
たべさせて
II
きます
します
こさせます
させます
こさせる
させる
こさせた
させた
こさせて
させて
Dari tabel diatas, dapat disimpulkan, perubahan kata kerja kebentuk kausatif adalah sebagai berikut:
·         Golongan I            :           [i] lebur, akar verbal disufiks  [ase]
·         Golongan II          :           akar verbal disufiks  [sase]
·         Golongan III         :           [kimasu] menjadi [kosasemasu]
[shimasu] menjadi [sasemasu]

2.2  O-kausatif dan ni-kausatif
Struktur dasar kata kerja kausatif dapat dilihat.
Subjek Penyebab (KB1)pelaku (KB2)/ aksi
“Subjek penyebab” adalah subjek yang menyebabkan sesuatu terjadi. Biasanya diikuti dengan partikel atau. Untuk “pelaku” atau yang melakukan suatu aksi diikuti partikel atau , ini ditandai dengan NPs. Sedangkan “aksi” merupakan kata kerja (transitif/ intransitif) kausatif. Bentuk kausatif ini hanya dipergunakan jika KB2 lebih rendah tingkatannya dibandingkan dengan KB1.

Shibatani (1990:309): "[o-kausatif] menyiratkan bahwa maksud kausatif ini diabaikan oleh orang yang menyebabkan sesuatu, sementara di [ni-kausatif], orang yang menyebabkan sesuatu membuat yang disebabkan untuk melaksanakan acara disebabkan." Secara umum, sebab-akibat di o-kausatif memiliki interpretasi yang lebih memaksa daripada di ni-kausatif. Untuk lebih jelasnya, kalimat kausatif dibedakan menjadi dua.
2.2.1       

Kata Kerja Intransitif Kausatif

Pada kata kerja intransitif kausatif pelaku ditunjuk dengan partikel を「wodan diikuti oleh kata kerja intransitif kausatif.
(1)   部長は            加藤さん       大阪へ出張させる。
Buchou-Nom  Katou-san-Acc  Oosaka he shucchous-ase-ru-Intransitif kausatif
“Kepala bagian menyuruh Sdr. Kato dinas ke Osaka”

(2)   私は                                自由に遊ばせた。
Watashi-Nom  Musume-Acc   jiyuu ni asob-ase-ta- Intransitif kausatif -lampau
“Saya membiarkan anak perempuan saya bermain sebebasnya”

2.2.2        Kata Kerja Transitif Kausatif

Pada kata kerja transitif kausatif pelaku ditunjuk dengan partikel に「nidan diikuti oleh kata kerja transitif kausatif.
(3)   私は                                朝ごはんの準備を手伝わせる。
Watashi-Nom  Musume-Dat   asagohan no jiyuu wo tetsudaw-ase-ru-transitif kausatif.
“saya menyuruh anak perempuan saya membantu menyiapkan sarapan.”     

(4)   先生は            生徒            自由に意見を言わせた。
Sensei-Nom     Seito-Dat         jiyuu ni iw-ase-ta- transitif kausatif- lampau
“Guru membiarkan murid untuk mngeluarkan pendapatnya dengan bebas.”

Pada contoh (1) dan (3), kalimat tersebut menyatakan pemaksaan, sedangkan (2) dan (4) menyatakan pemberian izin.

2.3  The Double-o Constraint (Kendala o-ganda)
O-kausatif dengan verba transitif selalu menghasilkan kalimat yang tidak gramatikal karena adanya kendala yang disebut Double-o oleh Harada (1973), lihat juga Kuroda (1978) dan Poser (1981).
(5)   母が                太郎を            本を                読ませた。
Haha-Nom      Taroo-Acc       Hon-Acc         yom-ase-ta-transitif kausatif -lampau
“Ibu menyuruh Taro membaca buku.”

Secara ringkas, Kendala Double-o mencegah klausa dari dua NP yang ditandai dengan partikel kasus akusatif o. Demikian, dalam kalimat kausatif (5) di atas. Ini berarti bahwa setiap kali kata kerja subkategori untuk NP yang ditandai dengan partikel kasus akusatif, sebuah o-kausatif dengan kata kerja menghasilkan kalimat tidak gramatikal.

Kendala Double-o bukanlah kendala spesifik untuk pembentukan kalimat kausatif, namun. Sebaliknya, itu merupakan kendala yang lebih umum yang ditemukan penerapannya di tempat lain. Sebagai contoh, kalimat dengan kata benda verbal. Seperti, nomina verbal dapat muncul dengan verba suru "melakukan". Dalam kasus terakhir, kata verbal nomina muncul dengan kasus Akusatif partikel o. Kedua kasus yang digambarkan di bawah ini.
(6)
a.       先生が                  研究する
Guru-Nom             penelitian-melakukan
“Guru melakukan penelitian”

b.      先生が                  研究を             する
Guru-nom             penelitian-Acc  melakukan
“Guru melakukan penelitian.”

Kata kerja kompleks dalam (6a), kenyuu-suru, dapat dianggap sebagai transitif (memerlukan objek), dan karena itu sering disertai dengan objek NP langsung, seperti di (7) yaitu kasus Akusatif o.

(7)        先生が            言語学        研究            する
Guru-Nom       linguistic-Acc penelitian-Acc melakukan
“Guru melakukan penelitian linguistik.”

Pola kalimat ini dapat dipertanggungjawabkan oleh Kendala Double-o: karena ada dua NP yang ditandai dengan partikel kasus Akusatif dalam klausa, kalimat ini tidak dapat diterima.
Semua kasus yang telah ditunjukkan sejauh ini menunjukkan pelanggaran Kendala Double-o yang melibatkan partikel kasus Akusatif o. Namun, tampaknya bahwa o yang dinyatakan dalam kendala belum tentu terbatas pada beberapa kejadian kasus Akusatif o. Perhatikan kalimat berikut.
 (8a)     Sensei-ga         Taroo-o            kooen-o      aruk-ase-ta
Teacher-Nom  Taroo-Acc       park-Acc    walk-kausatif -lampau
“the teacher made Taro walk throught the park

(9a)      Sensei-ga         Ziroo-o        gakko-no      mae-o         toor-ase-ta
Teacher-Nom Ziroo-Acc    school-Gen  front-Acc    pass -kausatif -lampau
The teacher made Ziro pass by in front of the school.”

Karena ada dua NP ditandai dengan o di setiap kalimat, tak satu pun dari kalimat kausatif ini dapat diterima. Kalimat yang diterima, seperti ni-kausatif, yang digambarkan di bawah ini.

(8b)      Sensei-ga         Taroo-ni    kooen-o      aruk-ase-ta
Teacher-Nom Taro-Dat   park-Acc    walk-kausatif- lampau
“the teacher made/let Taro walk trought the park.”
(9b)      Sensei-ga         Ziroo-ni    gakko-no      mae-o        toor-ase-ta
Teacher-Nom Ziro-Dat   school-Gen   front-Acc   pass-kausatif -lampau
“The teacher made/let Ziro pass by in front of the school.”

Kalimat ni-kausatif ini tidak hanya gramatikal, tetapi interpretasinya  juga ambigu antara pembacaan ni-kausatif dan pembacaan o-kausatif, seperti yang ditunjukkan oleh terjemahan bahasa Inggris.

Kata kerja di (8) - (9) semua tindakan menunjukkan verba yang menunjukkan ‘tindakan melintasi’ (misalnya: verba “berjalan”, “melewati”) merupakan ciri khas dari kelompok verba harus disertai dengan NP yang ditandai dengan [o]. Ketika sebuah NP ditandai-o muncul dengan verba ‘tindakan melintasi’, NP-o biasanya menunjukkan melalui jalan mana ‘tindakan melintasi’ itu terjadi. Beberapa peneliti telah menganalisis [o] yang terjadi dengan ‘tindakan melintasi’ sebagai posisi di belakang yang memiliki fonetis yang sama sebagai Partikel Kasus Akusatif (cf. Jorden 1987).

Harus diingat bahwa kendala double-o hanya berlaku dalam klausa tunggal. Jadi, jika kalimat mengandung lebih dari satu NP yang ditandai dengan o, kalimat itu akan diterima jika NP milik klausa yang berbeda. Ini ditampilkan dalam (10)
(10)      [s Taroo-ga    [s Hanako-o        nagutta]    otoko-o      semeta]
Taro-Nom     Hanako-Acc      hit             man-Acc     blamed
“Taro blamed the man who hit Hanako.”

        S
NP                                                       VP
Taroo-ga                                  NP                       V
S                      N         semeta
NP                   VP       otoko-o
                        [    ]      NP                   V
Hanako-o     nagutta

Kalimat di (10) terdiri dari sebuah klausa matrix dan kalimat modifier (atau klausa relatif) yang mengubah otoko "anak laki-laki". Perhatikan bahwa ada dua NP yang bersufiks oleh partikel kasus akusatif, Hanako dan otoko "anak laki-laki". Namun, Hanako berada dalam pengubah kalimat, sebuah bentuk klausa, sedangkan otoko "anak laki-laki" berada di klausa matriks, dan karena itu kendala Double-o tidak efektif dalam kalimat ini. Artinya, dua NP ditandai dengan partikel Kasus Accusative tidak dalam klausa yang sama. Oleh karena itu, kalimat sesuai dengan gramatikal meskipun ada dua NP ditandai dengan partikel Kasus Accusative dalam kalimatnya secara keseluruhan.

2.4  Struktur kausatif
Shibatani (1973b, 1976) membahas secara detail, ada beberapa bukti untuk menentukan hukum kalimat kausatif melibatkan klausa tertanam. Perhatikan contoh berikut dengan kata ganti refleksif zibun.
(11)      太郎が花子を/に自分の へやで勉強させた。
            Taroo-ga  Hanako-o/ni         zibun-no     heya-de    benkyou-sase-ta
            Taro-Nom   Hanako-Acc/Dat self-Gen      room-in    study-kausatif- lampau
            “Taro made/had Hanako study in self’s room.”

Sebagai co-pengindeksan kalimat di (11) menunjukkan, zibun adalah ambigu: ditujukan untuk Taroo atau Hanako. Dalam kalimat ini, Taroo dan Hanako diidentifikasi sebagai subjek. Selain itu, fakta bahwa ada dua subjek dalam kalimat ini berarti bahwa ada dua klausa yang terlibat dalam kalimat. Artinya, Taroo adalah subjek dari kalimat matriks, sementara Hanako adalah subjek dari kalimat tertanam. Atas dasar asumsi ini, struktur sintaksis (11) sebagai berikut.
(12)                                                      S
NP                                                                               VP
          Taroo-ga                        NP                                           S                                  V
Hanako-o/ni                NP                               VP                   sase-ta
                        Hanako            PP                    V
NP                   P          benkyoo
NP                   N         de
Zibun-no         heya

Shibani (1976) menyatakan sebagai "bi-klausal" (yaitu terdiri dari dua klausa) analisis kalimat kausatif seperti yang digambarkan dalam (238) didukung oleh penafsiran modifikasi adverbial.
Sementara kalimat kausatif menunjukkan sifat bi-klausal sebagaimana digambarkan di atas, Miyagawa (1986) mendiskusikan bahwa mereka juga menunjukkan sifat karakteristik klausa struktur tunggal ("mono-klausal") (juga Shibatani 1990). Ingatlah bahwa kita telah mencatat dalam bagian 8.3. bahwa Kendala Double-o berlaku dalam klausa tunggal. Jika struktur kausatif adalah bi-klausal dan masing-masing klausa berisi NP-o, kalimat seharusnya bersifat gramatikal. Struktur mono klausal kalimat:
 (13)     Sensei-ga      Taroo-ni      hon-o          yom-ase-ta
            Guru-Nom    Taro-Acc     buku-Acc   baca-kausatif -lampau
            “Guru menyuruh Taro membaca buku.”
NP
NP                                           VP
Sensei-ga                           NP       NP             V
Taroo-o            Hon-o     yom-ase-ta
Dari pengamatan ini, maka kalimat kausatif memiliki sifat penting baik untuk struktur mono-klausula maupun struktur bi-klausal. Miyagawa (1986) menarik kesimpulan bahwa kausatif sebenarnya terkait dengan kedua struktur.

2.5  Kalimat Kausatif Pasif
Konstruksi kausatif dan pasif dapat dikombinasikan untuk dari kalimat pasif kausatif. Artinya, morfem kausatif (s)-ase dan morfem pasif -(r) keduanya akan bersufiks ke akar verbal pada waktu yang sama. Perubahan kata kerja pasif kausatif dapat dituliskan seperti pada tabel.
Gol
Verba
Kata kerja kausatif
Kata kerja pasif kausatif
Bentuk sekarang
Bentuk lampau
I
いく
話す
いかせる
させる
いかされる
させられる
いかされた
させられた
II
たべる
たべさせる
たべさせられる
たべさせられた
II
くる
する
させる
せる
させられる
せられる
させられた
せられた
Dari tabel diatas, dapat disimpulkan, perubahan kata kerja kausatif ke bentuk pasif adalah sebagai berikut:
·         Golongan I            :           [i] lebur, akar verbal disufiks  [asare-ru]
*verba [hanasu], [u] lebur, akar verbal disufiks [ase-rare-ru]
·         Golongan II          :           akar verbal disufiks  [sase-rare-ru]
·         Golongan III         :           [kuru] menjadi [kosaserareru]
[suru] menjadi [saserareru]

Ketika sebuah kalimat kausatif dalam bentuk pasif, morfem kausatif ada di sebelah kiri dari dasar kalimat pasif, urutan relatif antara morfem kausatif dan pasif dibalik.
Kalimat kausatif          :  友達は に 宿題を 手伝わせた。
                                                                        “Teman meminta saya mengerjakan tugas.”
Kalimat kausatif pasif :  は 友達に 宿題を 手伝わされた。     
“Saya diminta teman untuk mengerjakan tugas.”

2.6  Kausatif Adversatif (kesulitan kausatif)
Dalam bahasa jepang, kesulitan konstruksi tidak terbatas pada kalimat pasif. Oehrle dan Nishio (1980) menunjukkan, kesulitan juga dapat dinyatakan dalam kalimat kausatif.
Mari kita amati contoh kesulitan kausatif  berikut.
(14)      Taroo-ga          musume-o        sin-ase-ta
            Taro-Nom        Daughter-Acc die-kausatif -lampau
            “Taro had his daughter die on him.”

(15)      Hanako-ga       reizooko-o            yasai-o               kusar-ase-ta
            Hanako-Nom   refrigerator-Gen   vegetable-Acc  spoil-kausatif-lampau
            “Hanako had the vegetable in the refrigerator spoil on her”

Verba kompleks dalam kalimat di atas memiliki morfem kausatif (s)ase. Kalimat di (14) sebenarnya ambigu antara interpretasi kausatif normal dan pembacaan kausatif yang berlawanan. Artinya, kalimat ini bisa ditafsirkan sebagai Taro menyebabkan kematian putrinya atau Taro menjadi terpengaruh oleh kematian putrinya bahkan jika ia tidak menyebabkan kematian putrinya. Penafsiran yang berlawanan yang diamati dalam (15) juga. Hanako terpengaruh oleh sayuran rusak: sebagai hasilnya dia tidak punya sesuatu untuk dimakan, misalnya. Dengan demikian, kesulitan yang dipamerkan tidak hanya dalam kalimat pasif tetapi juga pada konstruksi kausatif dalam bahasa Jepang.

2.7  Kausatif Leksikal  
Kausatif leksikal adalah verba transitif yang secara morfologi sering kontras dengan rekan intransitifnya. Tidak seperti kalimat kausatif dengan -(s)ase, kausatif leksikal tidak terbentuk produktif, melainkan pada kausatif leksikal adalah verba transitif yang dikenakan makna kausatif melekat padanya. Perhatikan kata kerja kausatif (transitif) dan intransitif.

(248)
 kausatif (transitif)             intransitif
Tome-ru "berhenti"
                       Tomar-u"stop"
Umur-ru "meningkatkan"
            agar-u"naik"
Sage-ru "rendah"
                          Sagar-u"rendah"
Okos-u "bangun"
                          oki-ru"bangun"
Nekasu "ditidurkan"
                    ne-ru"tidur"

Sebagai paradigma di (248) menunjukkan, kausatif leksikal (transitif) dan intransitif secara morfologis terkait.
Kausatif leksikal dan kausatif produktif  dengan -(s)ase adalah sama memiliki makna kausatif, namun secara semantik dan sintaksisnya berbeda . Perhatikan ilustrasi ini.
(249)
a.       Taroo-ga Hanako-o tome-ta                                  (kausatif leksikal)
Taro-Nom Hanako-Acc stopped
“Taro stopped Hanako.”

b.      Taroo-ga Hanako-o tamar-ase-ta                           (kausatif produktif)
Taro-Nom Hanako-Acc stop-kausatif-lampau
“Taro made Hanako stop.”

Kalimat (a) yang dengan kausatif leksikal sedangkan (b) kausatif yang dibentuk oleh sufiks morfem kausatif -(s)ase ke akar kata kerja intransitif. Jadi, jika verba intransitif memiliki rekan kausatif leksikal seperti (248), keduanya berhubungan dengan dua jenis kausatif, kausatif kausatif leksikal dan produktif.

Kausatif leksikal mengungkapkan sebab-akibat manipulatif dimana orang yang menyebabkan sesuatu membawa tentang peristiwa yang dilakukannya untuk NPs (sasaran), sedangkan kausatif produktif,  misalnya [Tomar-ase-ru] "membuat X berhenti" menyatakan penyebab direktif di mana orang yg menyebabkan sesuatu yang memberikan arah ke NPs untuk membawa tentang peristiwa yang dikausatifkan.

Menyimpang penyebab leksikal dari kausatif sintaktis produktif (lih. Shibatani 1973a, 1973b, 1976). Ingatlah bahwa kita telah mengamati bahwa fakta-fakta kalimat refleksi menunjukkan bahwa kasatif produktif terdiri dari dua klausa, yaitu bi-klausal. Shibatani (1976) menunjukkan, bagaimanapun, bahwa uji reflexivization menunjukkan bahwa penyebab leksikal terdiri dari sebuah klausa tunggal, yaitu klausula mono.


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sebagaimana kita ketahui, bentuk kausatif bermakna “A menyebabkan B melakukan sesuatu perbuatan. Selain bentuk konjugasi verba, kalimat kausatif juga ditandai oleh partikel o pada kalimat intransitif dan partikel ni pada kalimat transitif. Namun pada saat o terduplikasi, maka pada kondisi inilah partikel ni digunakan, bahkan pada kalimat intransitif.

Pada shieki ini, terjadi perubahan kata kerja dengan penambahan morfem –(s)ase pada kausatif produktif dan morfem –(s)asare-ru untuk bentuk pasif dari kalimat itu sendiri.

Dalam penerapannya, kalimat kausatif bahasa jepang atau yang disebut shieki, memiliki banyak kendala seperti pertikel o-ganda, kausatif leksikal bahkan penentuan strukturnya pun menemukan kesulitan. Bagi pembelajar asing, materi ini cukup sulit untuk dipahami.


DAFTAR PUSTAKA
Bano, Eri ddk.1999.Genki.Tokyo:The Japan Times.
IMAF.1998.Minna no Nihongo.Surabaya:IMAF Press
Tsujimura, Natsuko. An Introduction to Japanese

You Might Also Like

0 komentar

Hii All.. Thanks for visiting my blog.. Please leave your comment and connect each other.. Thankyou ^.^