Japan Culture

Kehidupan Sehari-hari Orang Jepang

9:53:00 PM

Contoh Keseharian Kegiatan Orang Jepang

JAM 13.00

Pada pukul 1 siang Nyonya Sato mengenakan pakaian bepergian lalu berangkat menuju Culture Center. Di sana Nyonya Sato dapat mempelajari kesustraan klasik Jepang dan percakapan bahasa inggris. Pada Culture Center para ibu-ibu rumah tangga dapat kursus untuk menggerakan badan seperti aerobik atau menari jazz, di sana juga terdapat kursus memasak, percakapan bahasa jepang, budi pekerti dan banyak kursus lainnya.  Dahulu kala pada Culture Center ini para ibu-ibu rumah tangga dapat mempelajari seni minum teh (Shado), seni merangkai bunga (Ikebana) juga latihan menjadi wanita feminim tetapi pada saat sekarang lebih banyak lagi kursus yang bisa kita ikuti seperti tenis, berenang, bola voli dll, masing-masing dapat kita pilih sesuai dengan minat.

Setelah selesai kursus di Culture Center, Nyonya Sato membeli bahan makanan untuk persiapan makan malam, di jepang masa sekarang hal ini menjadi sangat mudah karena di supermarket dan depertemenstor telah banyak makanan instan yang hanya dengan memanaskannya sudah dapat kita makan di rumah.
Pada saat sekerang ini pekerjaan ibu rumah tangga menjadi mudah karena perkembangan teknologi yang begitu pesat, dengan vacuum cleaner, oven, mesin cuci dan peralatan pembantu rumah tangga lain yang telah canggih membuat ibu rumah tangga di Jepang dapat menghabiskan waktunya di luar rumah khususnya Culture Center untuk mengembangkan keterampilan. Ibu rumah tangga yang membuat pakaian sendiri-pun menjadi berkurang—ibu rumah tangga di Jepang lebih memilih memesannya pada tukang jahit sehingga mereka memiliki banyak waktu luang di luar.

JAM 15.00

Pada pukul tiga sore di kantor Tuan Sato, sudah jadi hal biasa melakukan senam. Merenggangkan seluruh badan ke kiri dan ke kanan sambil mengikuti ritme musik yang terdengar dari pengeras suara dan radio.


JAM 16.00

Pada pukul empat sore anak-anak selesai sekolah dan pulang ke rumah. Kedua anak di keluarga sato setiap hari pulang-pergi ke tempat les untuk mempersiapkan diri demi ujian akhir. Di Jepang persaingan untuk memasuki sekolah tingkat berikutnya atau universitas sangat ketat, oleh karena itu hamper seluruh anak-anak di jepang mengikuti bimbel di luar meskipun ada juga anak-anak yang tidak mengikutinya karena merasa belajar di sekolah formal saja sudah cukup.

Anak perempuan di Keluarga Sato selain mengikuti bimbel juga mengambil kursus piano juga tenis sedangkan anak laki-lakinya mengikuti kelas renang.
Selain bimbel, anak-anak yang lebih memilih untuk mengambil les privat di rumah juga tidak kalah banyak. Sekolahan di jepang sering memberikan PR yang banyak kepada muridnya sehingga setelah pulang ke rumah-pun belajar selama 3 jam sampai 4 jam-pun bukanlah pemandangan yang mengherankan.

Pada saat yang kurang lebih sama di kantor Tuan Sato, pekerjaan masih berlanjut. Sebenarnya pekerjaan berakhir pada pukul lima sore tetapi hampir-hampir tidak ada pekerja kantoran yang langsung pulang ke rumah selepas bekerja. Biasanya selain lembur, sudah menjadi hal yang biasa pekerja kantoran di Jepang pergi makan-makan dan minum-minum bersama klien atau pelanggan mereka. Juga banyak yang mengambil kesempatan ini untuk hanya sekedar minum satu gelas sake dengan kolega mereka. Pada saat selain urusan kantor banyak karyawan yang menikmati waktunya pergi ke tempat-tempat yang berlentera merah atau bar untuk  minum-minum sake yang lebih murah. Topik pada saat di kursi minum sake-pun para karyawan banyak yang saling bertukar informasi mengenai pekerjaan atau hal-hal yang bersifat pribadi. Hal-hal yang seperti ini lah yang membentuk kebudayaan asosiasi salaryman Jepang dan lagi hal-hal yang paling banyak dinikmati oleh salaryman di luar tetek-bengek pekerjaannya adalah bermain bola golf dan mahjong. Selain itu banyak juga yang membentuk tim baseball. Pada kenyataannya, makin meningkat karyawan yang memanfaatkan sistem libur dua hari seminggu, dan banyak yang menjadikan hari sabtu sebagai hari liburnya tetapi ada juga karyawan yang apabila ada pekerjaan yang dianggap penting maka dikerjakannya secara independen di luar kantor pada saat libur. Pada hari minggu tidak sedikit karyawan yang menghabiskan seharian waktunya bermain golf tetapi belakangan ini pergi berbelanja atau ke taman hiburan bersama keluarga menjadi suatu aktifitas yang meningkat pesat yang dilakukan oleh salaryman.

JAM 19.00
Saat Tuan Sato pulang telat ke rumah, Nyonya Sato hanya mengambil makan malam untuk anak-anak saja. Karena pada saat-saat seperti inilah waktu yang baik bagi anggota keluarga untuk menyaksikan siaran televisi, tidak sedikit keluarga yang makan malam sambil menonton tayangan kesukaannya.

Jika Tuan Sato ada kesempatan pulang tepat waktu, maka seluruh keluarga jadi makan malam bersama. Tuan sato akan dihidangkan sake atau bir sambil bercakap-cakap dengan istri dan anak-anak membincangkan mengenai kegiatan anak-anak di sekolah serta rumor-rumor yang beredar di lingkungan sekitar, merupakan waktu ngumpul-ngumpul keluarga yang paling menyenangkan setelah seharian melakukan aktifitas yang melelahkan.

Tuan Sato bolak balik dari rumah ke perusahaan kira-kira memakan waktu 1 jam perjalanan, tetapi pada kota besar seperti Tokyo, kira-kira bisa memakan waktu satu setengah jam dengan berjalankaki dan tidak sedikit orang-orang yang menghabiskan waktu sampai dua jam untuk sampai ke kantor. Jadi pola hidup keluarga yang seperti ini membuat waktu tatap muka antara ayah dan anak-anak menjadi sangat sedikit dikarenakan pada saat ayah pulang ke rumah anak-anak sudah tertidur lelap. Kenyataannya di Jepang, karena absennya ayah seperti ini, menjadi masalah sosial di Jepang.  

Pada umumnya urusan keuangan rumah tangga di urus oleh sang istri, kecuali pengeluaran yang berjumlah besar akan dikontrol oleh istri melalui akun bank dekat rumah tempat gaji suami ditransfer, uang jajan untuk sang ayah langsung diserahkan oleh sang ayah. Bagi Nyona Sato, menjadi waktu yang tepat untuk menghitung neraca keuangan keluarga pada saat setelah makan malam.

JAM 22.00

Pada jam sepuluh malam setelah selesai belajar anak-anak berendam ke dalam ofuro. Sedangkan orang tua, mandi dan menonton berita olahraga lewat dari jam sepuluh malam sebelum tidur sudah menjadi hal yang biasa pada keluarga Jepang pada umumnya.
Rumah Keluarga Sato—apartemen ukuran 3LDK, dibeli dengan mencicil dengan pembayaran sekitar 25% dari gaji bulanan. Banyak orang yang mampu membayarnya lunas dengan hanya tiga kali pembayaran sebanyak tersebut pada waktu bonus namun pada kasus Keluarga Sato menjadi pengeluaran per bulan terbesar setiap bulannya.  Masing-masing suami, istri dan kedua anaknya mendapat satu kamar yang ukurannya tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil.

Kebanyakan orang Jepang, dari kehidupan apartemen seperti ini, memiliki impian entah kapan untuk memiliki rumah dengan perkarangan di sekitarnya. Tetapi, perlahan kehidupan masyarakat di apartemen di tetapkan, menjadi banyak orang yang menetapkan untuk tinggal di apartemen saja.

Kesimpulan
Dapat kita lihat bahwa dari pukul satu siang sampai jam sepuluh malam aktifitas keseharian  keluarga di Jepang memiliki keteraturan dan kualitas kegiatan yang membentuk karakter masyarakat Jepang pada umumnya. Tidak ada waktu yang terbuang percuma, setiap detiknya dijalani oleh masing-masing anggota keluarga dengan sebaik-baiknya. Dibantu oleh kecanggihan teknologi seorang ibu rumah tangga dapat mengurus pekerjaan rumahnya dengan mudah sehingga banyak waktunya digunakan untuk mengembangkan keterampilannya. Sedangkan anak-anak bersekolah dengan kesadaran tinggi untuk menuntut ilmu serta persaingan yang ketat untuk meraih masa depan membuat mereka meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya berleha-leha dengan tidak melupakan cara menikmati keseharian mereka. Seorang ayah yang membanting tulang mencari nafkah tidak hanya untuk keluarganya tetapi juga membangun negaranya menciptakan etos dan spirit kerja bersama-sama dengan konsumennya.
Dapat kita lihat keseharian pembentuk karakter orang jepang dari uraian makalah. Tetapi tak ada gading yang tak retak. Akibat pola kehidupan yang ideal seperti ini dapat melahirkan pula masalah dalam masyarakat. Berawal tidak terbinanya keluarga secara utuh karena seorang anak kehilangan sosok sang ayah menjadikan masalah yang serius untuk masa depan Negara Jepang.    

Daftar Kepustakaan

Itasaki, Gen. 1992. “Nihongo de Manabu Nihonjijo”. Japan : 3A

You Might Also Like

4 komentar

  1. Sangat disayangkan mmng di indonesia justru bnyk waktu luang santai dripd negara mrk tpi justru waktu luang tu hrus dimanfaatkan sebaik mungkin makasih y min infonya

    ReplyDelete

Hii All.. Thanks for visiting my blog.. Please leave your comment and connect each other.. Thankyou ^.^