Japan Language

Tipologi Bahasa Jepang

2:53:00 PM

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Bahasa merupakan inti kehidupan. Tanpa bahasa kehidupan tidak akan berkembang hingga sejauh ini. Setiap negara memiliki bahasanya masing-masing. Bahasa-bahasa di dunia memiliki struktur dan ciri khas tata kata tersendiri. Pengelompokan bahasa berdasarkan ciri khas tata kata dan tata kalimatnya dikenal dengan sebutan tipologi (Mallison dan Blake, 1981: 1-3).
Perbedaan tipologi masing-masing bahasa memberikan keunikan yang baik untuk diketahui dan dipelajari. Selain itu sebelum kita memahami lebih jauh mengenai kalimat, jenis-jenis kalimat, klausa, frasa dan hal-hal yang berhubungan dengan sintaksis lainnya, akan lebih baik jika terlebih dahulu kita harus mengetahui dan memahami tipologi bahasa, khususnya bahasa Jepang.

1.2  Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah agar kita dapat memahami apa itu tipologi, mengetahui tipologi bahasa Jepang serta perbandingannya dengan tipologi bahasa Indonesia. Serta mengetahui fungsi dari S, O ,V dalam tataran sintaksis.

1.3  Rumusan Masalah
a.       Apakah tipologi bahasa itu?
b.      Bagaimana fungsi dari tipologi?
c.       Bagaimana bentuk tipologi bahasa Jepang, dan bagaimana perbedaan tipologi bahasa Jepang dengan bahasa Indonesia?
d.      Kenapa dalam sebuah kalimat terdiri dari S, O, dan V dalam bahasa Jepang, dan S, V, O dalam bahasa Indonesia? Sedangkan yang sering kita dengar dalam kalimat terdiri dari S, P, O.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tipologi
Tipologi yaitu pengelompokan bahasa berdasarkan ciri khas tata kata dan tata kalimatnya(Mallinson dan Blake,1981:1-3). Lebih jauh Mallinson mengemukakan bahwa bahasa-bahasa dapat dikelompokan berdasarkan batasan-batasan ciri khas strukturalnya. Kajian tipologi bahasa berusaha menetapkan pengelompokan secara luas berdasarkan sejumlah fitur gramatikal yang saling berhubungan.

2.2 Fungsi Tipologi
Tipologi bertujuan untuk menentukan pola-pola lintas bahasa dan hubungan diantara pola-pola tersebut. Dengan demikian metodologi dan hasil-hasil penelitian tipologis pada dasrnya bersesuaian dengan teori tata bahasa apa saja.

Ada tiga preposisi penting yang terkemas dalam pengertian tipologi yaitu; (a) tipologi memanfaatkan perbandingan lintas bahasa, (b) tipologi mengelompokan bahasa-bahasa atau aspek bahasa tersebut, (c) tipologi mencermati fitur-fitur lahiriah bahasa.

Comrie(dalam newmeyer (ed.) 1988) menyatakan bahwa tujuan tipologi bahasa adalah untuk mengelompokan bahasa berdasarkan sifat perilaku struktural bahasa-bahasa tersebut. Menurutnya ada dua asumsi pokok tipologi yaitu: (a) semua bahasa dapat dibandingkan berdasarkan strukturnya, (b) ada perbedaan diantara bahasa-bahasa yang ada.

2.3 Tipologi Bahasa
Russell Tomlin menyelidiki urutan kata dasar dari sebuah sampel 402 bahasa dan menemukan sebagian besar jatuh dalam dua kategori sebagai tabel di bawah ini menunjukkan.

Word Order Distribution of Languages Word Order Distribusi Bahasa
Basic Word Order Basic Word Order
Proportion of Proporsi
Languages Bahasa
Examples Contoh
Subject-[Verb-Object] Subject-[Verba-Obyek]
42% 42%
English, Indonesian Inggris, Indonesia
Subject-[Object-Verb] Subject-[Objek-Verba]
45% 45%
Japanese, Turkish Jepang, Turki
Verb-Subject-Object Verba-Subject-Obyek
9% 9%
Welsh, Zapotec Welsh, Zapotec
[Verb-Object]-Subject [Verba Objek-]-Subject
3% 3%
Malagasy Malagasi
[Object-Verb]-Subject [Object-Verb]-Subject
1% 1%
Object-Subject-Verb Object-Subject-Verb
0% 0%
Source: Baker, p. Sumber: Baker, hal 128. 128.

Bahasa-bahasa di dunia dibedakan menjadi bahasa VO dan bahasa OV. Bahasa Indonesia adalah jenis bahasa VO dan bahasa Jepang merupakan bahasa OV. Ada konstituen modifier yang mempunyai peran khusus hanya menerangkan arti konstituen inti yang mengisi V predikat. Modifier itu disebut qualifier (Q). Letak qualifier adalah sebelum V pada bahasa VO dan setelah V pada bahasa OV, jadi Q-V-O atau O-V-Q.

Contoh :
おばさんケーキ作ります
     S                O               V
Nenek membuat kue.
    S           V        O

お母さんコーヒー飲みたい
   S                   O              V     Q
Bahasa Indonesia                                     Bahasa Jepang
(1)   ingin minum                                             nomitai
    Q      V                                                     V Q
(2)   harus minum                                             noma nakerebanaranai
Q       V                                                   V                 Q
Konstruksi predikat pada kedua bahasa tersebut, seperti terlihat pada contoh (1) dan (2) bahasa Indonesia, menempatkan qualifier (Q) sebelum verba (V), sedangkan bahasa Jepang menempatkan qualifier setelah verba. Qualifier adalah konstituen periferal yang menerangkan konstituen inti dalam konstruksi predikat. Dalam bahasa Indonesia verba minum yang menjadi konstituen inti diterangkan oleh ingin dan harus. Dalam bahasa Jepang yang menjadi konstituen inti adalah verba nom(i) dan nom(a) yang berarti minum. Verba ini dijelaskan oleh -tai 'ingin' (1) dan -nakerebanaranai 'harus' (2). Dalam konstruksi tersebut juga terlihat adanya gejala mirror image (bayangan cermin) dalam hal urutan qualifier dan verba di antara kedua bahasa.
Dalam kajian sintaksis terdapat istilah fungsi sintaksis dan kategori sintaksis. Fungsi sintaksis berkaitan dengan slot-slot dalam kalimat, yang sering disebut dengan subjek (S), predikat (P), dan objek (O)2. Sedangkan kategori sintaksis berhubungan dengan jenis kata dalam bahasa, misalnya verba, adjektiva, nomina, dan sebagainya. Konstruksi sintaksis bahasa pada level terbesar kebanyakan didasarkan pada urutan fungsi sintaksisnya, terutama urutan objek dan predikatnya. Fungsi predikat secara kategori sintaksis diisi oleh jenis kata verba (V). Oleh karena itu, dalam penyebutan jenis bahasa selain ada istilah bahasa dengan urutan SPO ada juga istilah penyebutan bahasa SVO.
V pada konstruksi yang disebutkan terakhir bisa berarti fungsi sintaksis predikat dan tentu saja bisa juga berarti kategori sintaksis verba dalam arti sesungguhnya. Dalam penelitian selanjutnya Lehmann menganggap fungsi sintaksis subjek merupakan konstituen yang tidak begitu penting secara antar-bahasa. Artinya, ada bahasa yang sering mengabaikan keberadaan subjek. Hal ini kebetulan terjadi dalam bahasa Jepang. Dalam bahasa ini sering sekali subjek tidak disebut dalam percakapan. Misalnya dalam (anata wa) doko e ikimasuka 'kamu akan pergi ke mana'?, subjek anata wa 'kamu' sering dihilangkan. Sebaliknya subjek dalam bahasa Indonesia sering dimunculkan. Dengan contoh bahasa Jepang ini tentu kita bisa mudah menerima bahwa subjek menjadi hal yang kurang begitu penting secara antar-bahasa. Rupanya dengan alasan ini, berdasarkan urutan fungsi sintaksisnya, bahasa-bahasa di dunia dibedakan menjadi bahasa tipe VO (atau PO) dan bahasa OV (atau OP). Bahasa Indonesia dan bahasa Jepang mewakili kedua tipe bahasa tersebut.
Dalam hubungannya dengan adposisi (Ad) terdapat preposisi (Pr) dan postposisi (Po). Bahasa yang menempatkan objeknya setelah verba atau predikat (bahasa VO) biasanya mempunyai preposisi (Pr). Sebaliknya bahasa yang menempatkan objeknya sebelum verba (bahasa OV) mempunyai postposisi (Po).
Fungsi sintaksis objek (O) diisi oleh kategori sintaksis nomina (N). Di sini, adposisi dan verba mempunyai kesamaan dalam hubungannya dengan penguasaan terhadap nomina3. Bahasa Indonesia sebagai bahasa VO yang menempatkan objeknya setelah verba mempunyai adposisi berupa preposisi, dan bahasa Jepang sebagai bahasa OV menempatkan objeknya sebelum verba beradposisi berupa postposisi. Dalam konstruksi misalnya membeli buku (V-O) atau dalam bahasa Jepangnya hon o kau (O-V), maka verba membeli atau verba kau 'membeli' dalam bahasa Jepang mempunyai kekuasaan (menguasai) terhadap buku atau hon o 'buku'. Sejajar dengan konstruksi ini misalnya konstruksi frasa adposisi di toko (Pr-N) atau dalam bahasa Jepangnya mise de (N-Po) 'di toko', maka preposisi di dan postposisi de 'di' mempunyai kekuasaan terhadap nomina toko atau mise 'toko'. Dengan demikian, dalam bahasa Indonesia yang VO itu urutannya adalah verba-nomina (V-N), sejajar urutannya dengan preposisi-nomina (Pr-N); dan dalam bahasa Jepang yang OV itu urutannya adalah nomina-verba (N-V), sejajar urutannya dengan nomina-postposisi (N-Po). Jadi, penguasaan verba terhadap nomina sama urutannya dengan penguasaan adposisi (preposisi/postposisi) terhadap nomina4.
Sementara itu, seperti sudah disinggung di atas bahwa V pada konstruksi VO/OV dalam tipologi bahasa Greenberg-Lehmann bisa berarti verba, bisa juga berarti predikat. Jika V tersebut adalah verba maka penjelasan lainnya tidak diperlukan. Artinya memang V yang dimaksud adalah fungsi sintaksis yang diisi oleh kategori verba. Namun, jika V tersebut adalah predikat, dalam hubungannya dengan keistimewaan masing-masing bahasa, V predikat tersebut perlu dijelaskan lebih lanjut. Karena kategori sintaksis yang dapat mengisi slot predikat dalam bahasa Jepang tidak hanya verba saja. Adjektiva dan nomina juga bisa menduduki slot predikat.
 
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Tipologi yaitu pengelompokan bahasa berdasarkan cirri khas tata kalimatnya (Mallison dan Blake, 1981: 1-3). Kajian tipologi bahasa berusaha menetapkan pengelompokan secara luas berdasarkan sejumlah fitur gramatikal yang saling berhubungan. Tipologi bertujuan untuk menentukan pola-pola lintas bahasa dan hubungan diantara pola-pola tersebut. Dengan demikian metodologi dan hasil-hasil penelitian tipologis pada dasarnya bersesuaian dengan teori tata bahasa apa saja.

Bahasa-bahasa di dunia dibedakan menjadi bahasa VO dan Bahasa OV. Bahasa Indonesia adalah jenis bahasa VO dan Bahasa Jepang merupakan bahasa OV. Jadi dapat kita ketahui bahwa tipologi dari bahasa Jepang adalah SOV. Di mana S merupakan subyek, O merupakan objek dan V merupakan verb. Dalam pengelompokan tipologi cenderung ditentukan dengan posisi V(verb), karena setiap bahasa pasti mempunyai kata kerja atau verb.

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: PT RINEKA CIPTA
Tsujimura, Natsuko. An Introduction to Japanese.
http://www.WordIq.com  (2/15/2011; 8:15PM)
http://aplet-magic.com (2/15/2011; 8:31PM)

Oleh :   Kelompok 1 sastra jepang unand 2009

You Might Also Like

10 komentar

  1. Τhe flex waіstband ԁemanԁѕ а load of shοppers.


    My blog pοst ... flex belt coupon

    ReplyDelete
  2. Τhe ѕmoκe from thiѕ іtеm can bе
    сlearеd out in a mattеr οf minutes.


    Here iѕ my web sitе :: v2 cigs Coupons

    ReplyDelete
  3. is there а cost of this рartiсular
    green smoke anԁ daily maintаince cоst
    also.....

    Here іs my website ... Green smoke review

    ReplyDelete
  4. Μy wife and I have bеen smoking green smoke`ѕ produсtѕ
    ѕince '09! We will never light up anything else!

    My webpage :: Green Smoke E Cig

    ReplyDelete
  5. Newsletters are not old fashioned and can also be sent to e mail accounts that are valid and open.


    my webpage :: flex belt

    ReplyDelete

Hii All.. Thanks for visiting my blog.. Please leave your comment and connect each other.. Thankyou ^.^