Japan Language

Kalimat Mayor dan Minor dalam Bahasa Jepang

3:02:00 PM

BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Sintaksis adalah ilmu yang mempelajari tata kalimat. Parera (1988: 2) menjelaskan bahwa kalimat adalah bentuk ketatabahasaan yang maksimal yang tidak merupakan bagian dari sebuah konstruksi ketatabahasaan yang lebih besar dan lebih luas. Pendapat lain  menjelaskan bahwa sintaksis adalah salah satu cabang linguistik yang membicarakan  kata dalam hubungannya dengan, atau unsure-unsur lain sebagai suatu satuan ujaran. Ramlan (1976: 57) berpendapat bahwa sintaksis adalah bagian dari tatabahasa yang membicarakan struktur frasa dan kalimat.
Istilah sintaksis dalam bahasa Jepang disebut統語論’tougoron’ atau シンタクス’sintakusu’. Sintaksis adalah cabang linguistik yang mengkaji tentang struktur dan unsur . unsur pembentuk kalimat. Nita dalam Dedi Sutedi (2003:61) menjelaskan bahwa bidang garapan sintaksis adalah kalimat yang mencakup: jenis dan fungsinya, unsur . unsur pembentuknya, serta struktur dan maknanya. Dengan demikian, berbagai unsur pembentuk struktur kalimat pun merupakan garapan dari sintaksis. Struktur yang dimaksud mencakup struktur frase, klausa dan kalimat itu sendiri.
Kalimat merupakan satuan yang langsung digunakan dalam berbahasa, maka para tata bahasawan tradisional biasanya membuat definisi kalimat dengan mengaitkan peranan kalimat itu sebagai alat interaksi dan kelengkapan pesan atau isi yang akan disampaikan. Banyak lagi definisi lain mengenai kalimat yang telah diartikan oleh banyak orang. Di sini dalam kaitannya dengan satuan-satuan sintaksis yang lebih kecil (kata, frase dan klausa) kita akan mengikuti mengikuti konsep, bahwa kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan, serta disertai dengan intonasi final (Djuha : 1989).
Kalimat dapat diklasifikasikan berdasarkan pada: (a)  jumlah dan jenis klausa, (b) struktur internal klausa utama, (c) jenis reponsi yang diharapkan, (d) sifat hubungan actor-aksi, (e) ) ada atau tidaknya unsure negative pada frase verba utama (f) kesederhanaan dan kelengkapan , (g) posisinya dalam percakapan, (h) konteks dan jawaban yang diberikan
Dalam bahasa Jepang, kalimat disebut bun. Bun memiliki arti yaitu bagian yang memiliki serangkaian makna yang ada di dalam suatu wacana yang dibatasi dengan titik. (Iwabuchi, 1989 : 242-243) menyatakan bahwa sebuah kalimat ditandai dengan penghentian pengucapan pada bagian akhir kalimat.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Kalimat Dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jepang
            Berbagai definisi banyak dikemukakan mengenai kalimat. Diantaranya kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap merupakan definisi umum yang biasa kita jumpai. Disini dalam kaitannya dengan satuan . satuan sintaksis yang lebih kecil (kata, frase dan klausa) kita akan mengikuti konsep bahwa kalimat adalah susunan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan, serta disertai dengan intonasi final (Abdul Chaer 2003 : 240).

Jenis Kalimat tersebut terdiri dari :
a.       Kalimat Inti dan Kalimat Non Inti
Kalimat inti sering juga disebut kalimat dasar, adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif, atau netral. Kalimat inti dapat diubah menjadi kalimat non inti dengan berbagai proses.
b.      Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk
Kalimat tunggal ialah kalimat yang hanya memiliki satu klausa. Sedangkan kalimat majemuk ialah kalimat yang memiliki klausa lebih dari satu.
c.       Kalimat Mayor dan Kalimat Minor
Kalimat mayor adalah kalimat yang memiliki klausa yang lengkap, sekurang . kurangnya memiliki unsur subjek dan predikat. Sedangkan kalimat minor ialah kalimat yang klausanya tidak lengkap, entah hanya terdiri dari subjek saja, predikat saja, objek saja ataukah keterangan saja.
d.      Kalimat Verbal dan Kalimat non-Verbal
Kalimat verbal ialah kalimat yang dibentuk dengan klausa verbal, atau kalimat yang predikatnya berupa kata atau frase yang berkategori verba. Sedangkan kalimat non verbal ialah kalimat yang kalimat yang predikatnya bukan kata atau frase verbal, bisa nominal, adjektival, adverbial atau juga numeralia.
e.       Kalimat Bebas dan Kalimat Terikat
Kalimat bebas ialah kalimat yang berpotensi untuk menjadi ujaran lengkap atau dapat memulai sebuah paragraf atau wacana tanpa bantuan kalimat atau konteks lain yang menjelaskannya. Sedangkan kalimat terikat ialah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap, atau menjadi pembuka paragraf atau wacana tanpa bantuan konteks.
Nita dalam Dedi Sutedi (2003:61) menggolongkan jenis kalimat dalam bahasa Jepang dua macam, yaitu kalimat berdasarkan struktur 構造上’kouzou-jou’dan berdasarkan pada makna 意味上’imi-jou’.
Kalimat berdasarkan pada struktur pembentukannya terbagi atas:
1. Dokuritsugobun (独立語文)
Dokuritsugobun adalah kalimat yang tidak memiliki unsur predikat disebut juga kalimat minim. Dalam dokuritsugobun ada dua macam, yaitu:
a. Yang menggunakan kandoshi (kata seru)
Menurut Shimizu Yoshiaki dalam Sudjianto (2004:169) di dalam kandoshi terkandung kata – kata yang mengungkapkan perasaan seperti rasa terkejut dan rasa gembira.
            「あら!」 ”ara” <”Loh!”>
            「雪!」 ”yuki” <”Salju!”>
                        
                        b. Yang menggunakan meishi (kata benda)
Kalimat ini terbentuk dari kata benda, dan masih bisa diperluas dengan memberi keterangan lainnya.
            「田中!」 “Tanaka” <”Tanaka”>
            「火事!」 “Kaji” <”Kebakaran”>
            
            2. Jutsugobun (述語文)
Jutsugobun adalah kalimat yang berkontruksi predikatif. Jutsugobun digolongkan berdasarkan jenis kata yang digunakan dalam predikatnya.
a. Berdasarkan jenis kata yang menjadi predikatnya
1) Doushibun (kalimat verbal)
          a) Tadoushibun (kalimat transitif)
                                       リディアさんはBakso を食べます。
Lidia san wa bakso o tabemasu.
     Nona Lidia makan bakso.
         b) Jidoushibun (kalimat intransitif)
                                        雨が降ります。
Ame ga furimasu.
Hujan turun.

2) Keiyoushibun (kalimat adjectival)
a.)    I – keiyoushi (adjektive – I)
                                     このかばんが重いです。
                                     Kono kaban ga omoi desu.
                                     Tas itu berat.
b) Na – keiyoushi (adjektive – Na)
                                     あの人はハンサムです。
                                     Ano hito wa hansamu desu.
                                     Orang itu ganteng.
3) Meishibun (kalimat nomina)
Toba湖はとてもきれいです。
Toba ko wa totemo kirei desu.
Danau Toba sangat indah.
     a.) Berdasarkan pada jumlah klausanya
       1.) Tanbun (kalimat tunggal)
            私はアンダラス大学で日本語を勉強します。
           Watashi wa Andarasu daigaku de nihon go o benkyoushimasu.
           Saya belajar bahasa Jepang di Universitas Andalas
      2) Fukubun (kalimat majemuk), di dalamnya terdapat:
         a) Shusetsu (klausa utama)
              頭が痛いですから、どこへ行きません。
              Atama ga itai desukara, doko e ikimasen.
        Karena sakit kepala, tidak pergi kemana – mana.
               b) Juusetsu (klausa tambahan)
                   が痛いですから、どこへ行きません。
                    Atama ga itai desukara, doko e ikimasen.
                   Karena sakit kepala, tidak pergi kemana – mana.

        c) Seibunsetsu (klausa pelengkap)
            私は、先週、グラメディアでみゆきさんがめがねをかけていたのを見ました。
            Watashi wa senshuu Gramedia de Miyuki san ga megane o kaketeita no wo mimashita.
            Minggu lalu saya melihat Miyuki yang memakai kaca mata di Gramedia.

Kalimat berdasarkan pada makna terbagi atas:
1. Kalimat dari segi isi 意味的内容’imiteki – naiyou’ terbagi atas:
a. Kalimat yang menyatakan keadaan 状態文’joutaibun’
                            アンダラス大学が大きい大学です。
                Andarasu daigaku ga ookii daigaku desu.
                Universitas Andalas adalah universitas yang besar.
b.                       b.  Kalimat yang menyatakan aktivitas「動きの文‘ugoki no bun’
                                    私は論文を書いているところです。
                Watashi wa ronbun o kaiteiru tokoro desu.
                Saya sedang menulis skripsi.
2. Kalimat dari segi fungsi 伝達的機能‘dentatsuteki – naiyou’ terbagi atas:
a. Kalimat perintah 働きかけの文‘hataraki – kake no bun’
Kalimat perintah adalah kalimat yang berfungsi untuk menyampaikan keinginan kepada lawan bicara agar melakukan sesuatu. Di dalamnya terkandung kalimat yang berfungsi untuk menyatakan:
1) Perintah 命令‘meirei’
            立ってなさい!
              Tatte nasai!
              Silahkan berdiri!
2) Larangan 禁止‘kinshi’
              食べるな!
               Taberuna!
               Jangan makan!
            3) Permohonan 依頼‘irai’
               タバコを吸わないでください!
                Tabako o suwanai de kudasai!
                Tolong jangan merokok!
            4) Ajakan  勧誘‘kannyuu’
               一緒に食べませんか。
                 Isshouni tabemasenka!
                 Mari makan bersama – sama.!
b. Kalimat yang menyatakan maksud keinginan意思願望の表出文‘ishi/ ganbou no hyoushutsubun’
Kalimat yang menyatakan maksud keinginan adalah kalimat yang menyatakan harapan pembicara, tetapi diutarakan hanya kepada diri sendiri bukan orang lain. Di dalamnya terkandung kalimat yang menyatakan:
1) Maksud atau hasrat 意思‘ishi’
                                         今年も頑張ろう。
Kotoshi mo ganbarou.
        Tahun ini saya harus bekerja keras.
2) Keinginan 希望‘kibou’
                            去年、日本へ行きたいです。
Kyou nen, ni hon e ikitai desu.
     Tahun ini ingin pergi ke Jepang.
3) Harapan  願望‘ganbou’
                            あした試験を合格になります!
                              Ashita shiken o gokaku ni narimasu!
                              Mudah – mudahan ujian besok lulus.
c. Kalimat berita 述べ立ての文‘nobetate no bun’
Kalimat berita berfungsi untuk menyampaikan informasi dari pembicara pada lawan bicara. Di dalamnya terkandung kalimat yang menyatakan:
1) Kalimat untuk menyampaikan informasi baru 現象描写文‘genshou – byounshabun’
            きのう、妹は新しい携帯電話を買いました。
             Kinou, imouto wa atarashii keitai denwa o kaimashita.
             Kemarin adik saya membeli HP baru.
2) Kalimat yang berisi suatu keputusan atau kepastian 判断文‘handanbun’
            小田先生は日本人です。
              Ota sensei wa ni hon jin desu.
             Bapak Iio adalah orang Jepang.
d. Kalimat Tanya 問いかけの文‘toikake no bun’
Kalimat tanya adalah kalimat yang digunakan untuk meminta informasi dari lawan bicara tentang hal yang tidak atau belum diketahui, untuk menghilangkan keraguan pembicara terhadap sesuatu hal. Di dalamnya terkandung kalimat yang menyatakan:
1) Pertanyaan  問いかけの文‘toikake no bun’
                                         この赤いかばんはいくらですか。
Kono akai kaban wa ikura desuka?
      Tas merah itu harganya berapa?
      2) Keragu – raguan 疑いの文‘utagai no bun’
                            先生は、来るかしらです。
Sensei wa, kurukashira desu.
       Dosen datang ga ya?
3) Ekspresi emosi 感嘆を表す文‘kantan o arawasu bun’
                              うわ、ハンサムだ。!
Uwa, hansamu da!
        Wah, gantengnya!

2.2  Kalimat Lengkap Dalam Bahasa Jepang

Seperti dalam bahasa Indonesia, kalimat lengkap akan terdiri dari Subjek + Prediket + Obyek + Keterangan atau disingkat dengan SPOK.  Pola kalimat yang paling sederhana dalam Bahasa Jepang yang terdiri dari Subyek + Prediket saja. Pola kalimatnya adalah sebagai berikut :
I. SUBYEK WA PREDIKAT DESU.
Keterangan :
Wa adalah partikel untuk menunjukkan bahwa kata yang ada di depannya adalah Subyek kalimat.
Desu adalah penutup kalimat yang predikatnya selain kata kerja
Contoh :
+ watashi wa gakusei desu. = saya (adalah) pelajar.
+ yamada-san wa kaisha'in desu. = yamada karyawan perusahaan.
+ watashi wa 17-sai desu. = saya (umurnya) 17 tahun.
+ watashi wa indoneshia-jin desu. = saya orang indonesia.


II. SUBYEK WA PREDIKAT
 JA ARIMASEN.
            Jika desu di pola kalimat di atas diganti dengan ja arimasen, kalimatnya menjadi kalimat negative atau penyangkalan.
+ watashi wa gakusei ja arimasen. = saya BUKAN pelajar.
+ yamada-san wa kaisha'in ja arimasen. = yamada BUKAN karyawan perusahaan.
+ watashi wa 17-sai ja arimasen. = saya (umurnya) BUKAN 17 tahun.
+ watashi wa indoneshia-jin ja arimasen. = saya BUKAN orang Indonesia.


III. SUBYEK WA PREDIKAT DESU KA.
        + Hai, PREDIKAT desu.
        + iie, PREDIKAT ja arimasen.
Jika di belakang desu diberi partikel ka, kalimat tersebut menjadi kalimat pertanyaan. Jawaban dari kalimat pertanyaan di atas bisa dengan hai (= ya) atau iie (= bukan
atau tidak).
Contoh jawaban yang menggunakan hai :
 A : anata wa gakusei desu ka. = apakah kamu pelajar?
B : hai, (watashi wa) gakusei desu. = ya, (saya) pelajar.
Untuk menjawab pertanyaan dari A, supaya lebih singkat, bisa langsung saja sebut Predikat-nya tanpa perlu menambahkan Subyek-nya (watashi wa) seperti contoh di bawah ini :
 A : yamada-san wa kaisha'in desu ka. = apakah yamada karyawan perusahaan?
B : hai, kaisha'in desu. = ya, (dia) karyawan perusahaan.
 
A : anata wa 17-sai desu ka. = apakah kamu (umurnya) 17 tahun?
B : hai, 17-sai desu. = ya, (umur saya) 17 tahun.
A : anata wa indoneshia-jin desu ka. = apakah kamu orang Indonesia?
B : hai, indoneshia-jin desu. = ya, orang indonesia.

Contoh jawaban yang menggunakan iie :
 A : anata wa gakusei desu ka. = apakah kamu pelajar?
 B : iie, gakusei ja arimasen. = B
ukan, (saya) bukan pelajar.
A : yamada-san wa kaisha'in desu ka. = apakah yamada karyawan perusahaan?
B : iie, kaisha'in ja arimasen. = B
ukan, (dia) bukan karyawan perusahaan.
A : anata wa 17-sai desu ka. = apakah kamu (umurnya) 17 tahun?
B : iie, 17-sai ja arimasen. = B
ukan, (umur saya) bukan 17 tahun.
Untuk menjawab pertanyaan dari A dan jawabannya adalah bukan, maka di awal kalimat harus memakai iie dan di akhir ditutup dengan ja arimasen.

Kalimat-kalimat yang secara tata bahasa sudah lengkap dan urutannya benar
(1) 私は公園でお弁当を食べた
(2) 公園で私はお弁当を食べた
(3) お弁当を私は公園で食べた
(4) 弁当を食べた
(5) 食べた

Urutan pada kalimat bahasa Jepang
  1. Kalimat yang lengkap membutuhkan verba utama di akhir. Ini juga termasuk pernyataan keadaan benda yang tersirat.
    例) 食べた
    例) 学生(だ)
  2. Kalimat lengkap (klausa subordinat) bisa digunakan untuk memodifikasi nomina.
    例) お弁当を食べた学生が公園に行った。        

BAB III
RINGKASAN

            Struktur kalimat paling sederhana di bahasa Indonesia bisa dituliskan sebagai berikut: [Subjek] [Verba] [Objek]. Suatu kalimat menjadi kacau jika urutan itu dibolak-balik. Misalnya, artinya bisa berubah dari "Kamu makan ikan" menjadi "Kamu ikan makan" (Kamu adalah ikan yang makan?). Bahasa Inggris juga kebetulan strukturnya adalah [Subjek] [Verba] [Objek]. Di lain sisi, para pelajar bahasa Jepang menyatakan bahwa bahasa Jepang urutannya terbalik. Bahkan beberapa guru bahasa Jepang juga akan mengajarkan bahwa urutan dasar kalimat bahasa Jepang adalah [Subjek] [Objek] [Verba]. Tentu saja, kita tahu bahwa urutan sebenarnya dari kalimat bahasa Jepang fundamental adalah: [Verba]. Apapun yang muncul sebelum verbanya tidak harus muncul dengan urutan tertentu dan sebetulnya hanya dengan verba suatu kalimat sudah benar dan lengkap. Yang perlu diingat hanyalah bahwa verba harus selalu muncul di akhir. Alasan satu-satunya partikel dipakai adalah agar peran suatu kata bisa diketahui di manapun letaknya pada kalimat. Tidak ada aturan yang melarang kita membuat kalimat [Objek] [Subjek] [Verba] atau bahkan hanya [Objek] [Verba]. Dan begitu pula dengan kalimat lengkap dan kalimat tidak lengkap.

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul.2007.Linguistik Umum.Jakarta : Rineka Cipta.

Dahidi, Ahmad dan Sudjianto. 2009.Pengantar Linguistik Bahasa Jepang.Jakarta :KBI




You Might Also Like

0 komentar

Hii All.. Thanks for visiting my blog.. Please leave your comment and connect each other.. Thankyou ^.^