Japan Culture

Orang Jepang dalam Mitos Indonesia

11:40:00 AM

BAB I
 PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Perubahan adalah sebuah keniscayaan, perubahan tidak dapat dielakkan dalam kehidupan manusia. Tanpa adanya perubahan maka dapat dipastikan bahwa manusia tidak akan bertahan. Begitu juga dengan konteksnya dalam masyarakat. Masyarakat yang tidak mau berubah tidak akan mampu menghadapi perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi, yang ada mereka akan tertinggal dan terus tertinggal. Melihat kepada keberhasilan manusia dan masyarakat Jepang yang cukup menarik perhatian umat manusia karena berbagai hal, bangsa Jepang telah membelalakkan mata dunia dengan menjadi bangsa yang pilih tanding dalam kompetensi ilmu pengetahuan dan teknologi. Jepang juga mampu mereformasi pendidikan secara menyeluruh yang disesuaikan dengan dunia Barat.
Keberhasilan Jepang sekarang ini tidaklah dapat dipisahkan dari kebangkitan bangsa Jepang dari keterpurukannya sebelum lahirnya era terang yang sering disebut sebagai “Restorasi Meiji”. Bangsa Jepang sebelum Restorasi Meiji adalah bangsa yang penuh carut marut konflik sosial dan konflik antar kelompok, termasuk carut marut ekonomi. Peristiwa Restorasi Meiji 1868 adalah sejarah agung manusia Jepang sesudah carut marut politik itu. Restorasi Meiji menjadi sejarah besar yang pengaruhnya begitu abadi bagi bangsa Jepang hingga saat ini.
Kerjasama antara Jepang dan Indonesia sudah terjalin sejak lama. Migrasi orang Jepang ke Indonesia baru terjadi dalam skala besar pada akhir abad ke-19, meskipun sudah ada kontak perdagangan secara terbatas antara Indonesia dan Jepang setidaknya sejak abad ke-17. Jumlah warga keturunan Jepang yang hidup dan tinggal di Indonesia sejumlah sekitar 2.500 orang .  Mereka tetap menjalin silaturahmi sesama komunitas keturunan Jepang dengan mendirikan Yayasan Warga Persahabatan. Keturunan mereka disebut Nikkei Indonesia.

1.2  Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
a.       Bagaimana orang Jepang (dalam mitos) di Indonesia
b.      Bagaimana hubungan di masa awal
c.       Bagaimana restorasi meiji dan migrasi orang jepang ke Indonesia
1.3  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dibuatnya makalah ini adalah :
a.       Untuk mengetahui orang jepang (dalam mitos) di Indonesia
b.      Untuk mengetahui hubungan di masa awal
c.       Untuk mengetahui restorasi meiji dan migrasi orang jepang ke indonesia

2.1  Orang Jepang (dalam Mitos) di Indonesia
Pada zaman dulu, bangsa Jepang adalah bangsa yang sangat dekat, bahkam mempunyai hubungan darah dengan Indonesia. Pada dekade kedua abad ke-20, mengutip keterangan dari Departement van Builtenlandsch Zaken yang dirilis pada 1916, Encyclopaedie van Nederlandsch Indie menyebut bahwa orang Melayu dan Minahasa serta Bugis mengaitkan asal-usul nenek moyang mereka dengan orang Jepang. Nenek moyang mereka berasal atau mempunyai hubungan darah dengan orang Jepang. Tidak itu saja, beberapa produk budaya, misalnya dari daerah Minahasa, seperti model rumah, bentuk pagar, nisan kubur dan lain sebagainya dikatakan memiliki kesamaan dengan apa yang dimiliki orang Jepang (‘Japanners in den Maleischen Archipel” dalam Encyclopaedie van Nederlandsch Indie dalam Asnan:2011:11).
Orang Minang juga mengatakan bahwa nenek moyang mereka memiliki hubungan darah dengan orang Jepang. Tambo, historiografi tradisional Minangkabau, menyebut bahwa nenek moyang urang awak  itu bersaudara kandung dengan nenek moyang orang Jepang dan Arab. Nenek moyang orang Minangkabau bernama Maharaja Diraja, nenek moyang orang Jepang bernama Maharaja Depang, dan nenek moyang orang arab bernama Maharaja Alif. Mereka bertiga adalah anak Iskandar Zulkarnain (Alexander the Great) penguasa Makedonia (Amad Dt. Batuah dan A. Dt. Madjoindo dalam Asnan:2011:14).
Dewasa ini, “pengakuan” bahwa nenek moyang mereka bersaudara atau berhubungan darah dengan orang Jepang tidak ditemukan lagi pada orang Melayu, Minahasa dan Bugis. Historiografi tradisional Riau (daratan atau kepulauan) dewasa ini lebih cenderung mengaitkan asal-usul mereka dengan Dunia Melayu (Malaysia) dan Dunia arab, Minahasa mengaitkan para leluhur mereka dengan Raja mongol (China), dan Bugis tidak mencari asal-usul nereka ke luar negri, namun menukikkan perhatiannya pada negeri mereka sendiri, dengan menyebut bahwa mereka adalah keturunan la sattumpugi, raja pertama Kerajaan Cina (bukan negara atau negri China di daratan asia), tetapi sebuah kerajaan yang terdapat di jazirah Sulawesi Selatan, tepatnya Kecamatan Pammana, Kabupaten Wajo saat ini.
Di kalangan orang Minangkabau, mitos kesamaan nenek moyang ini masih tetap berkembang. Kebanggaan akan danya hubungan darah antara mereka dengan orang Jepang masih menghiasi halaman-halaman tambo, historiografi tradisional suku bangsa yang mendiami bagian tengah kawasan barat Pulau Sumatera itu.
Adanya mitos yang mengatakan bahwa adanya orang Jepang yang telah menganut Islam yang datang ke Pulau Jawa pada akhir abad ke-18 dan danya sejumlah santri serta mubaligh jawa yang pergi ke Jepang untuk berdakwah. Mitos ini diciptakan karena Islam juga dijadikan sebagai salah satu pintu masuk bagi Jepang ke indonesia.
Mitos mengenai hubungan Jepang dengan Indonesia juga diungkapkan dalam penulisan sejarah Indonesia “modern”. Klooster merujuk pada karya Douwes Dekker yang berjudul Wereldgeschiedenis I. Oost Azie dan Vluchtig Overzicht van de Geschiendenis van Indonesia menyebbut bahwa hubungan sejarah, ekonomi dan kebudayaan Indonesia sebetulnya lebih kuat dan erat dengan Asia Timur termasuk Jepang) dibandingkan dengan negeri-negeri di kawasan Barat (India, Arab dan Eropa).
Penulisan sejarah, baik berupa cerita dan mitos atau risalah “sejarah modern” mempunyai andil yang besar dalam membina ingatan kolektif sebagian orang Indonesia di masa lalu dan juga saat sekarang mengenai adanya hubungan darah, keturunan serta sejarah antara Indonesia dengan Jepang.

   2.2 Hubungan di Masa awal
Di alam nyata interaksi bangsa Jepang dan Indonesia dilakukan oleh para saudagar (dan bajak laut), serta baru terjalin sekitar abad-abad di pertengahan milenium kedua. Aktivitas niaga menjadi sebuah fenomena dalam sejarah Jepang pada abad-abad sekitar pertengahan milenium kedua, terutama pada zaman Ashikaha atau zaman Muromachi (1338-1573) dan kemudian dilanjutkan pada zaman Azuchi-Momoya (1573-1615). Sebelum bangkitnya etos niaga bangsa Jepang pada era Muromachi, kegiatan perdagangan natara Negeri Matahari terbit tersebut dengan luar negeri dilakoni oelh para saudagar China. Kapal-kapal dagang China telah mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Kyusu secara rutin pada masa Dinasti Sung. Pada abad ke-12 saudagar Jepang mulai terlibat dalam perdagangan mancanegara. Saudagar Jepang mulai mengunjungi kota-kota bandar China dan kemudian pelabuhan-pelabuhan utama Korea. Memasuki abad ke-14, para saudagar Jepang telah terlibat secara aktif dalam dunia niaga laut Jepang dan Laut China Timur. Dan sejak saat itu mereka mengambilalih peranan saudagar China dalam perdagangan antara Jepang dengan China dan antara Jepang dengan Korea (Takeshi dalam Asna:2011:24).
Aktifnya Jepang dalam dunia niaga dengan kawasan selatan bersamaan waktunya dengan kehadiran orang Eropa di negeri mereka khususnya dan di kawasan Timur Asia lainnya. Pada 1541 orang portugis telah terdampar di pantai Jepang. Sesudah orang Portugis, dating pula oranng spanyol pada 1592. Lalu pada 1600 saudagar Belanda masuk ke Jepang dan pada 1609 mulai aktif berdagang.
Portugis yang telah memiliki wilayah kekuasaan di Nusantara (Ternate dan Malak), Spanyol yang telah memiliki kekuasaan di Phlipina, dan Belanda tang telah memiliki kekuasaan di Maluku bagian selatan dan Batavia ikut-serta dan mempunyai andil dalam menghubungkan Jepang dengan Indonesia pada hari-hari pertama terjalinnya kontak antara Nusantara dengan Negeri Matahari Terbit itu.
Dalam sejarah hubungan antara Jepang dengan Nusantara, Indonesia tidak hanya menjadi ajang niaga orang Jepang. Negeri ini juga menjadi tempat bagi orang Jepang “mencari hidup” dengan bekerja dalam lapangan pekerjaan yang tidak ada hubungan dengan dunia niaga. Pada masa-masa awal berdirinya VOC misalnya, sejumlah orang Jepang menjadi “tenaga kerja” dan “tentara” pada kompeni dagang saat itu.
Sejak 1638 Jepang praktis menutup semua hubungan denagn dunia luar kecuali dengan VOC (Belanda), Chian dan Korea. Pemutusan hubungan dengan mancanegara tersebut juga diperkuat dengan pelarangan pembuatan kapal dalam ukuran besar yang dapat dipergunakan untuk pelayaran jarak jauh atau ke luar negeri. Sejak saat itu, kapal-kapal yang diproduksi atau dipakai hanyalah kapal-kapal dalam ukuran kecil dan diperuntukkan pelayaran dan perniagaan antarpulau dalam negeri saja. Sejalan dengan itu tamatlah kejayaan niaga internasinal Jepang. Sejak saat itu pulalah untuk waktu sekitar dua setengah abad orang Jepang tidak lagi muncul di Indonesia.

2.3  Restorasi Meiji dan Migrasi Orang Jepang ke Indonesia
Meiji adalah nama pemerintahan Kaisar Mutsuhito yang naik takhta 25 Januari 1868. Oleh sebab itu, kurun waktu dia duduk di singgasana kekaisaran dinamakan zaman Meiji, sebuah era yang berlangsung sejak 25 Januari1868 hingga 30 Juli 1912. Kaisar Mutsuhito, namanya menjadi begitu populer karena dialah kaisar yang kembali memegang hegemoni dalam berbagai lapangan hidup dan kehidupan orang (bangsa) Jepangsetelah sebelumnya berada di tangan shogun. Nama Kaisar Mutsuhito juga tercatat dalam sejarah modern Jepang karena pada masa pemerintahannyalah terjadi perubahan (dan kemajuan) besar dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya Jepang.
Pada hari-hari pertama Restorasi Meiji, orang-orang yang pergi ke luar negeri, terutama terdiri dari para tetinggi negeri, tujuan kepergian mereka lebih terfokus pada serangkaian agenda kenegaraan, serta negara tujuan adalah Amerika serikat dan Eropa khususnya dan dunia Barat pada umumnya.
Pada kesempatan berikutnya, warga Jepang yang banyak pergi ke luar negeri terdiri dari orang muda yang ingin menuntut ilmu. Kemudian adanya gagasan diberinya kesempatan bagi warga yang miskin untuk mengadu nasib di luar negeri. Gagasan ini diharapkan bisa memecahkan sebagian masalah sosial dan ekonomi Jepang. Dalam konteks inilah lahirnya gagasan untuk mengirim tenaga kerja Jepang ke kawasan Utara (hokushin-ron) dan Selatan Asia (nanshin-ron). Pada hari-hari pertama gerkan pergi ke Utara dan selatan ini dilaksanakan dengan cara-cara yang kurang manusiawi (bahkan dengan keterpaksaan dan tipu daya). Dan umumnya warga yang pergi itu terdiri dari kaum perempuan. Perempuan yang dibawa itu dijadikan pelacur. Daerah mancanegara yang menjadi lokasi praktik adalah China, sehingga dalam perbendaharaan bahasa Jepang para pelacur tersebut dikenal dengan sebutan karayuki-san. Kata kara berati Chian dan yuki berati menuju atau pergi ke arah suatu tempat, sehingga secara harfiah karayuki-san berarti orang-orang (wanita) yang pergi bekerja ke China (Meta Sekar Puji Astuti dalam Asnan:2011:47).
Bersamaan atau beberapa saat setelah kepergian karayuki-san, berangkat pula sejumlah lelaki (juga dari kelompok masyarakat “bersaghaja”) ke luar negeri. Mereka bekerja sebagai pedagang kecil yang menjual berbagai barang kebutuhan para karayuki-san (seperti makana, pakaian, penyewaan tempat “praktik” sehingga sebagian dari mereka juga berprofesi sebagai germo), penjual keliling berbagai barang yang dihasilkan Jepang, dan ada juga yang bekerja sebagai petani kecil.
Jejak kehadiaran orang Jepang di Indonesia terlacak pertama kali di kawasan Sumatera Timur. Diperkirakan, mereka datang atau didatangkan dari Singapura atau Pulau Penang. Sebagian orang Jepang yang berada di Indonesia pada akhir abad ke-19 terdiri dari kaum perempuan dan bekerja sebagai pelacur. Sementara kaum lelaki berprofesi sebagai pedagang keliling, germo, seta penjual berbagai obat-obatan.
Pada tahun-tahun permulaan abad ke-20 jumlah pelacur jepang di Indonesia meningkat dengan drastis. Praktik para karayuki-san terdapat di daerah-daerah perkebunan, pertambangan, dan perikanan (di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku). Sejak pertengahan dasawarsa keda abad ke-20 daerah operasi mereka semakin dipersempit.
Karayuki-san, pedagang keliling, pedagang pemilik warung, pedagang barang kelontong, serta penjual berbagai jenis obat dalam skala kecil menjadi ciri utama orang Jepang yang datang pada periode awal ke Nusantara. Menurut Dick, kurun waktu yang disebut sebagai periode awal kedatangan para imigran Jepang, yang terdiri dari “orang-orang biasa” ini berlangsung hingga pecahnya Perang Dunia I (Dick dalam asnan:2011:55). Untuk periode setelah itu, kalaupun masih ada dari mereka yang datang ke negeri ini, maka jumlahnya sudah jauh berkurang dan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok yang mendomisili kedatangan pasca-Perang Dunia I tersebut, yaitu golongann zaibatsu.
Para zaibatsu juga menggunakan kawasan Utara dan selatan Asia sebagai daerah menyalurkan produk yag mereka hasilkan. Perubahan kelas imigran Jepang yang datang ke Indonesia juga seiring dengan terjadinya perubahan perlakuan atau perubahan kebijakan politik pemerintah Hindia Belanda terhadap orang Jepang. Sejak 1899 pemerintah Hindia Belanda telah memperlakukan imigran Jepang sebagai kelompok masyarakat kelas satu. 


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
             Di Indonesia banyak terdapat mitos tentang kedekatan hubungan bangsa Jepang dengan bangsa Indonesia, bahkan mempunyai hubungan darah dengan orang Indonesia. Pernyataan ini dilihat dari adanya  pengakuan beberapa suku bangsa di Indonesia yang menyatakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari atau mempunyai hubungan darah dengan orang Jepang. Suku bangsa tersebut adalah orang Melayu, Minahasa, Bugis, dan minangkabau.
     Namun dewasa ini, pengakuan bahwa nenek moyang mereka bersaudara atau berhubungan darah dengan orang jepang tidak ditemukan lagi pada orang melayu, minahasa dan bugis.
              Orang Jepang datang ke Indonesia sebagai saudagar. Kontak yang terjalin antara Indonesia dan Jepang itu dipengaruhi oleh adanya portugis yang telah memiliki wilayah kekuasaan di Indonesia (Ternate dan Malaka), Spanyol yang telah memiliki kekuasaan di Filipina, dan Belanda yang telah memiliki kekuasaan di Maluku bagian selatan dan Batavia. Ketiga negara Eropa ini telah menjalin hubungan dengan Jepang. 
           Sebelum perang dunia I, orang Jepang yang datang ke Indonesia adalah para karayuki-san, pedagang keliling, pedagang pemilik warung, pedagang barang kelontong, petani kecil, serta penjual berbagai jenis obat dalam skala kecil. Setelah perang dunia I, jumlah mereka yang datang ke Indonesia sudah jauh berkurang dan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan golongan zaibatsu yaitu kelompok masyarakat pemilik modal yang biasanya juga terdiri dari pemilik berbagai perusahaan (industri, perkebunan, perikanan, dan lain sebagainya).


Daftar Pustaka

Asnan, Gusti. 2011. Penetrasi Lewat Laut : Kapal-kapal Jepang di Indonesia Sebelum 1942. Yogyakarta : Ombak

You Might Also Like

0 komentar

Hii All.. Thanks for visiting my blog.. Please leave your comment and connect each other.. Thankyou ^.^